Dalam dua pekan terakhir gejolak politik di Kepulauan Riau (Kepri)  semakin menghangat. Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak gelombang I yang sempat dikabarkan mundur dari jadwal sebelumnya, tidak membuat tensi politik di daerah ini menurun. Bursa persaingan pasangan bakal calon yang akan maju dalam Pemilihan Kepala Daerah Gubernur (Pilgub) Kepri, makin mengerucut atau mengkristal. Jika sebelum ini sejumlah bakal calon gubernur maupun wakil gubernur yang akan maju masih menutupi siapa yang akan menjadi pasangannya, memasuki tahun 2015 masing-masing mulai berani mengungkap siapa yang akan menjadi pasangannya.

Langkah yang diambil bakal calon ini tak lepas dari perkembangan terakhir pembahasan revisi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Pilkada. Meski saat tulisan ini ditulis belum ada keputusan resmi soal revisi tersebut, namun semua poin-poin revisi telah disepakati pemerintah, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) serta Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu).

Di antara poin-poin yang direvisi yaitu pilkada kembali ke sistem paket.  Dengan sistem ini,  satu calon kepala daerah berpasangan dengan satu calon wakil kepala daerah.  Sistem paket sangat mempengaruhi keputusan yang akan dibuat bakal calon kepala daerah yang akan mencalonkan diri. Dengan sistem ini, pemilihan pasangan akan berdampak langsung dan sangat menentukan kesuksesan di Pilkada.

Pasangan bakal calon gubernur dan wakil gubernur yang saling melengkapi tentunya akan lebih berpeluang menang di pilkada seperti Pilgub Kepri. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi dalam pemilihan pasangan yang akan digandeng baik bakal calon gubernur maupun wakil gubernur di antaranya dukungan partai politik, dana, elektabilitas calon, kemampuan dan kualitas.:

Dalam sejumlah pilkada sebelumnya baik di Kepri maupun daerah-daerah lain di Indonesia, faktor yang paling menonjol dalam mempertimbangkan dan memilih pasangan bakal calon yang akan digandeng yaitu dukungan partai dan kekuatan dana. Setelah kedua hal itu, pertimbangan selanjutnya adalah soal elektabilitas atau basis pemilih. Ironisnya, kemampuan dan kualitas yang merupakan modal penting yang harus dimiliki seorang pemimpin dalam me-manage pemerintahan malah diabaikan dan menjadi pertimbangan terakhir.

Hal ini juga jika kita amati berlaku dalam penentuan pasangan bakal calon gubernur maupun wakil gubernur Kepri. Namun begitu, kita tidak bisa menyalahkan mereka yang menggunakan cara seperti itu untuk menentukan pasangan yang akan dipilih. Sistem pilkada di negara kita yang mahal menjadi penyebab hal ini terjadi. Sudah menjadi rahasia umum, untuk memuluskan langkah agar mendapat restu dan didukung partai, seorang bakal calon kadangkala harus menyetor sejumlah uang. Dengan sistem pilkada yang belum sempurna terutama yang mengatur tentang pendanaan dan penggunaan anggaran, membuka peluang calon yang memiliki dana besar akan menjadi pemenang.

Pilgub Kepri

Di awal-awal tahun 2015 ini, ada dua nama bakal calon gubernur Kepri yang paling santer dan sering disebut serta diberitakan oleh media-media lokal akan bersaing di Pilgub Kepri mendatang. Menariknya keduanya saat ini berpasangan sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Kepri. HM Soerya Respationo menjabat Wakil Gubernur Kepri yang pertama memberi sinyal maju sebagai bakal calon gubernur pada pilgub mendatang. Tanda-tanda Ketua DPW PDIP Kepri ini akan meninggalkan HM Sani sudah terlihat sejak setahun lalu. Kemenangan PDIP pada Pemilihan Legislatif (Pileg) lalu, baik di Kepri maupun tingkat nasional semakin membuat HM Soerya mantap mencalonkan diri pada pilgub mendatang.

Setelah HM Soerya memastikan akan maju dalam perebutan kursi Kepri 1, tak lama berselang HM Sani menyusul menyatakan kesiapan maju di Pilgub. Dengan makin dekatnya waktu tahapan pilkada dimulai, sampai saat ini hanya dua nama calon gubernur yang hampir bisa dipastikan akan menjadi peserta Pilgub 2015. Jika posisi bakal calon gubernur Kepri telah menemui titik terang dengan adanya dua calon yang bisa dipastikan akan maju, yaitu HM Sani dan HM Soerya, tidak demikian dengan bakal calon wakil gubernur Kepri.

Selama ini beredar sejumlah nama yang dikaitkan sebagai pendamping HM Sani maupun HM Soerya di Pilgub 2015. Untuk HM Sani bakal calon wakil gubernur yang berpeluang mendampinginya yaitu HM Rudi SE, Ahmad Dahlan, dan Nurdin Basirun. Sedangkan HM Soerya dikaitkan dengan Ansar Ahmad, Nurdin Basirun, dan HM Rudi SE.

Semua bakal calon wakil gubernur yang disebutkan di atas memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Baik HM Sani maupun HM Soerya harus benar-benar memikirkan secara matang dan menghitung dengan cermat bakal calon wakil gubernur yang akan dipilih mendampingi mereka. Namun, dalam memutuskan siapa yang akan mendampingi Sani dan Soerya dalam Pilgub, keputusan tidak sepenuhnya di tangan mereka. Seperti disebutkan sebelumnya, penentuan pasangan sangat tergantung pada keputusan partai terutama pihak DPP.

Contohnya incumbent HM Sani yang baru-baru ini telah memantapkan pilihannya pada sosok Wali Kota Batam Ahmad Dahlan sebagai bakal calon wakil gubernur pada Pilgub Kepri periode 2015-2010. Namun, komposisi HM Sani-Ahmad Dahlan bisa saja berubah mengingat belum adanya keputusan resmi DPP Demokrat sebagai partai pendukung utama HM Sani. Seperti kita ketahui bersama masa jabatan Ahmad Dahlan-Rudi SE akan berakhir pada Maret 2016. Itu artinya, sesuai hasil revisi UU Pilkada, Pilwako Batam masuk gelombang pertama Pilkada yaitu Desember 2015.

Perubahan jadwal pelaksanaan Pilwako Batam ini bisa berdampak pada pencalonan Pilgub Kepri. Jika benar Pilwako digelar serentak dengan Pilgub, HM Rudi kemungkinan besar diplot DPP Demokrat maju sebagai bakal calon Wali Kota Batam dan Ahmad Dahlan mendampingi HM Sani sebagai bakal calon Wakil Gubernur Kepri.

HM Rudi SE sendiri memastikan akan tetap siap dengan apapun hasil keputusan resmi revisi UU Pilkada nantinya. Rudi mengaku siap maju di Pilgub Kepri maupun Pilwako Batam. Banyak kalangan yang berpendapat, dengan elektabilitas yang dimiliki HM Rudi saat ini, mantan anggota DPRD Kota Batam ini tidak akan terbendung jika pilwako digelar Desember 2015 ini. Tapi sekali lagi semuanya belum bisa dipastikan dan bisa saja berubah. Peluang Rudi SE ikut dan bersaing di Pilgub Kepri 2015 tetap terbuka.

Selain Ahmad Dahlan dan HM Rudi, nama lain yang sempat mencuat yaitu Bupati Tanjungbalai Karimun Nurdin Basirun.

Bagaimana dengan bakal calon pendamping HM Soerya? Kondisinya pun tak jauh berbeda dengan yang dialami HM Sani. Meski sudah sejak lama  nama bakal calon wakil gubernur yang akan berpasangan dengan HM Soerya disebut-sebut, tapi hingga pertengahan Februari 2015 ini belum juga bisa dipastikan. Padahal sejak sebelum pileg dan pilpres Ansar Ahmad telah dipersiapkan akan mendampingi HM Soerya sebagai bakal calon wakil Gubernur di Pilgub 2015.

Bahkan pertemuan-pertemuan di antara wakil kedua pihak telah beberapa kali dilakukan. HM Soerya sebagai Ketua DPW PDIP Kepri juga beberapa kali bertemu dengan Ketua DPD Golkar Kepri, Ansar Ahmad. Meski sempat menguat, seiring waktu berjalan posisi Ansar Ahmad sebagai bakal calon pendamping HM Soerya mulai diragukan. Ada beberapa hal yang mempengaruhi kondisi ini. Namun yang paling utama jelas karena adanya perpecahan di kubu Golkar yang hingga saat ini belum juga bisa diselesaikan.

Jika melihat hasil gugatan Ketua Umum Golkar versi Munas Ancol Agung Laksono, dimana penyelesaian sengketa dengan kubu Munas Bali dengan Ketua Umum Aburizal Bakrie dikembalikan ke Mahkamah Partai. Nah sesuai dengan keputusan Kemenkumham, yang intinya untuk sementara mengakui kedua kubu, dukungan kepada bakal calon harus atas kesepakatan bersama.

Meski Ansar memiliki pertimbangan sendiri dan hanya membidik kursi Kepri 2, kader dan simpatisan serta sejumlah pengurus Golkar di daerah ini terutama dari kubu Munas Ancol tidak sepakat. Sebagai peraih suara terbanyak dalam pileg lalu, ada sebagian yang menginginkan Golkar mengusung calon gubernur sendiri di Pilgub 2015. Bahkan mereka akan mendukung jika Ansar berani maju sebagai bakal calon gubernur Kepri untuk Pilgub mendatang.

Situasi yang dihadapi Ansar Ahmad ini jelas menjadi pertimbangan bagi HM Soerya. Nama Nurdin Basirun pun menguat untuk menggeser posisi Ansar Ahmad sebagai pendamping HM Soerya. Keberadaan Bupati Tanjungbalai Karimun ini memang patut diperhitungkan karena Karimun memiliki pemilih terbanyak kedua setelah Batam. Seandainya HM Soerya menggandeng Ansar Ahmad, hampir bisa dipastikan Nurdin akan mengalihkan dukungannya kepada HM Sani yang pernah bahu membahu memimpin Karimun sebagai Bupati dan Wakil Bupati. Suara Karimun bisa bulat ke kubu HM Sani. Tapi jika hal sebaliknya terjadi, yaitu HM Soerya menggandeng Nurdin Basirun, suara Karimun akan terpecah. Ini akan mengancam jumlah suara yang bisa diraih HM Sani nanti.

Tidak hanya dukungan partai dan elektabilitas, ada hal-hal lainnya yang juga akan menjadi pertimbangan HM Soerya memilih di antara keduanya, seperti kekuatan dana, kualitas, serta sikap dan prilaku. Dari kondisi yang tergambar saat ini, Nurdin Basirun dan Ansar Ahmad yang paling berpeluang mendampingi HM Soerya. Tapi sekali lagi semuanya bisa saja berubah, terutama soal bakal calon wakil gubernur yang akan berpasangan dengan HM Sani maupun HM Soerya. Persaingannya kedua figur yang saat ini memimpin Kepri dipastikan akan berlangsung ketat dan sengit. Dengan sistem paket, posisi bakal calon wakil gubernur sangat penting dan menjadi penentu siapa yang akan memenangkan Pilgub Kepri 2015.

Teuku Jayadi Noer
Pemerhati Politik dan Sosial dari LP3SK-NGO RiciSd