Purwakarta – Mengenal lebih dekat calon Bupati Purwakarta Padil Karsoma. Saat ini ia menjabat sebagai Sekretarias Daerah (Sekda) Kabupaten Purwakarta dan sejak beberapa bulan yang lalu mulai ramai diperbincangkan di masyarakat. Karena termasuk salah satu calon bupati Purwakarta pada pilkada 2018.

Figur Padil Karsoma bukan semata karena kekuatan finansialnya yang mumpuni, sehingga ia begitu diperhitungkan, namun juga karena posisi strategisnya sebagai bos Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Purwakarta.

Karena dua hal itulah, akses sosialisasi dan penetrasi kepada masyarakat menjadi lebih unggul dibanding figur lain yang sama-sama bakal maju memperebutkan kursi nomor satu di Purwakarta untuk periode 2018-2023.

Bahkan tak berhenti disitu, Padil yang sudah berstatus PNS sejak tahun 1980 ini dilaporkan telah mendapat restu Bupati Purwakarta dua periode, Dedi Mulyadi untuk melanjutkan estafeta kepemimpinannya di Purwakarta lima tahun kedepan.

Kondisi ini sontak saja membuat figur dari kubu lain makin panas dingin dan gemetaran. Sebab walau bagaimana pun, Dedi Mulyadi yang digadang bakal maju dalam Pilgub Jabar 2018, dianggap masih memiliki pengaruh dan peran besar untuk suksesi calon pemimpin Purwakarta kedepan.

Alhasil, tak sedikit orang akhirnya mulai berfikir ulang bertarung melawan Padil Karsoma, figur yang disodorkan Bupati Purwakarta sekaligus Ketua DPD Golkar Jawa Barat ini. Sebaliknya, mereka cenderung memilih kooperatif dengan membangun komunikasi politik.

Sayangnya, belum banyak orang tahu latar belakang Padil Karsoma, suami dari Hj Yeyet Suliawati ini. Terutama, dari sisi politik. Masih banyak orang mengira Padil merupakan seorang PNS murni yang awam politik. Apalagi, dalam hampir 16 tahun terakhir ia memilih fokus menjadi abdi negara, menjalankan amanat orang tuanya, alm H Rohman.

Namun rupanya, anggapan itu harus segera dikesampingkan. Sebab sejatinya, ayah empat anak ini merupakan kader sekaligus pengurus Partai Golkar cukup senior. Bagaimana tidak, di era orde baru, tepatnya tahun 1988 hingga 1998, Padil pernah menduduki jabatan Komisaris Partai Golkar Kecamatan Plered. Posisi itu ia duduki lantaran dulu belum ada larangan PNS berpolitik seperti halnya sekarang ini.

“Ya, kurang lebih segitu, sepuluh tahun di Golkar,” seperti yang disampaikan Padil beberapa bulan yang lalu, Jumat (27/01/2017).

Selain di parpol, sejumlah organisasi juga pernah ia singgahi. Terlebih, organ sayap partai berlambang pohon beringin. Termasuk organisasi lain seperti Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), sebagai wakil ketua, Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) wakil ketua, hingga menjadi Ketua Persatuan Perawat Nasional (PPNI) Kabupaten Purwakarta selama 10 tahun.

Sedangkan karirnya di birokrasi, Padil memulainya dengan menjadi tenaga perawat kesehatan sejak tahun 1980. Lokasi tugas pertamanya ialah Puskesmas Purwakarta. Lalu, Otorita Jatiluhur, Penanggungjawab Pustu Gandamekar, perawat Puskesmas Plered, Kepala Puskesmas Tegalwaru, Kepala Puskesmas Plered, Sekretaris Dinas Kesehatan, Kepala BKBPIA, Plt Kabag Kesra, Kepala Dinas Kesehatan dan sekarang Sekretaris Daerah Kabupaten Purwakarta.