Muara Enim, Indopolitika.com — Tokoh Sumatera Selatan, yang juga Calon Gubernur Sumsel 2018, Herman Deru gencar melakukan safari politik ke berbagai daerah di Sumatera Selatan. Kegiatan tersebut dilakukannya rutin setiap akhir pekan selepas melaksanakan safari Jum’at dan Baur Taklim di Kota Palembang. Menurut Deru, safari politik dilakukan untuk menyerap masukan, berdialog dan bertatap muka secara langsung dengan semua lapisan masyarakat. “Saya harus turun ke lapangan, tidak boleh diam menunggu laporan di meja. Jadi pemimpin itu harus mau blusukan dan blepotan, biar tahu kondisi sesungguhnya di lapangan” ujar Deru kepada media yang menyertai kegiatannya, Minggu (20/11).

Dalam dialog dan temu warga di Desa Air Lintang, Kecamatan Muara Enim, Kabupaten Muara Enim. Deru menyatakan memohon do’a dan restu warga untuk mencalonkan diri sebagai gubernur Sumsel  Pilkada 2018.  “Saya berkeliling untuk menyerap aspirasi warga Sumsel. Apa mau mereka, apa masalah mereka, apa kebutuhan mereka. Jangan sampai terjadi warga butuh nasi dikasih motor balap,” paparnya.

Dia menyatakan prioritas utama yang akan dilakukannya adalah program pengentasan kemiskinan. Deru prihatin dengan masih tingginya angka kemiskinan di Sumsel. “Secara persentase, tingkat kemiskinan di Sumsel mencapai 13,77%. Sedangkan tingkat kemiskinan secara nasional sebesar 11,13%, jadi Sumsel berada di atas rata-rata nasional,” ujarnya

Deru menambahkan, berdasarkan data BPS tahun 2015, proporsi penduduk miskin di Provinsi Sumatera Selatan berada di kelompok 12 besar dari 34 provinsi. Tingginya angka kemiskinan di Sumsel ini menurutnya jelas merupakan PR kita bersama untuk mengentaskannya. “Jangan dibiarkan kemiskinan terus naik, karena itu menyangkut kehidupan warga. Salah satu fokus kerja kami nanti adalah  pengentasan kemiskinan dan penanganan ketimpangan pembangunan antar-daerah,” ujarnya

Herman Deru mengemukakan gagasan solutif jangka panjang. Menurunkan angka kemiskinan, syukur kalau sampai di bawah angka kemiskinan nasional, menurutnya, harus dengan program yang memasukan berbagai pendekatan multi-sektor serta berkelanjutan. “Memberi bantuan keuangan karitas atau bantuan kebutuhan pokok dan sejenisnya tentu bisa untuk penanggulangan darurat jangka pendek. Untuk jangka menengah panjangnya perlu melalui peningkatan keterdidikan dan pembinaan juga perlu membangun infrastruktur desa, jalan poros desa, listrik masuk desa, program sanitasi dan pembentukan dan atau aktivasi lembaga-lembaga keuangan mikro dan layanan permodalan berbasis desa,” pungkasnya. (ind)