Tiga hari selepas debat publik Pilkada Provinsi Kepri, media sosial dipenuhi isu gelap, fitnah hitam, pemutar balikkan fakta atas peristiwa kericuhan usai Debat Publik pasangan calon Nomor 1, HM Sani – Nurdin Basirun dan pasangan calon nomor 2, Soerya Respationo – Ansar Ahmad.

Gencarnya fitnah hitam, berita bohong dan pemutar-balikkan fakta peristiwa telah melewati akal sehat dan nurani. Saya menjadi tertuduh, tersangka, biang kerok dari kericuhan dan keributan usai debat publik tersebut.

Padahal sejatinya, sumber  segala sumber kericuhan berasal dari pendukung paslon nomor urut 2. Ini mirip cerita maling teriak maling.

Berikut kronologis ceritanya.

Selasa pagi, 24 November 2015, 12 jam menjelang debat, saya mendapat telepon dari Bu Rini untuk datang ke rumah Pak Sani. Ada yang mau didiskusikan terkait materi debat. Saya tiba sekitar pukul 10.00 wib. Di sana telah hadir beberapa orang seperti Ketum Perpat Yanto, Pak Saidul Kudri dan Pak Bali Dalo Lawyer Tim.

Hampir tiga jam kami bediskusi dan bertukar pikiran tentang penajaman visi misi dan pilihan kata saat closing statement.

Usai diskusi, saya membaca surat undangan dan pemberitahuan KPU Provinsi Kepri tertanggal 20 Nov 2015, No. 587/ KPU-Prov-31-IX/2015. Isi surat pemberitahuan tersebut berisi larangan membawa pengeras suara dan senjata tajam. Tidak ada larangan membawa alat peraga seperti yang dibacakan oleh moderator saat membuka debat publik.

Pukul 16.00 Wib, saya pulang ke rumah. Istirahat. Pukul 19.00 Wib, bersiap untuk bersama tim pendukung ke tempat acara debat publik di Pacifik Palace Hotel di bilangan Sei Jodoh.

Saya tiba di Pacifik Palace sekitar pukul 19.35 Wib. Area parkir hotel penuh. Sulit mendapat tempat parkir. Saya harus memutar tiga kali untuk mendapat tempat kosong di pojok belakang dekat pujasera.

Sekitar pukul 19.50 Wib saya masuk hotel melalui pintu kiri. Di depan pintu penuh para pendukung Sani Nurdin. Sementara di pintu sebelah kanan penuh pendukung tim Soerya Ansar.

Tempat debat berada pada lantai 9. Ada dua lift digunakan. Cukup padat orang di pintu pendaftaran masuk ball room debat. Beberapa petugas kepolisian tampak mengawasi.

Sebelum memasuki ball room, setiap orang diperiksa satu persatu oleh petugas keamanan. Semua di geledah termasuk tas dan badan.

Saya diperkenankan masuk setelah memperlihatkan tanda pengenal khusus KPU dan melewati penggeledahan. Lalu berjalan masuk ball room dan mengambil posisi di sebelah kanan depan kira kira sepuluh langkah dari meja pasangan calon Soerya Ansar.

Agak lain nampaknya tata letak para tamu undangan. Berbeda dengan tata letak saat debat pulbik Walikota Batam seminggu lalu. KPU Provinsi menata tempat duduk pendukung Sani Nurdin di belakang paslon Soerya Ansar. Pendukung Soerya Ansar duduk di belakang paslon Sani Nurdin. Zig zag.

Sebelum debat dimulai, moderator membacakan tata tertib acara. Tata tertib acara berisi dilarang membuat keributan saat debat, dilarang membawa pengeras suara, senjata tajam dan alat peraga.

Stiker kuning Sani Ayah Kita yang saya bawa bukanlah alat peraga yang akan diperagakan saat debat. Ada 7 lembar stiker yang saya bawa. Tujuannya hanya untuk ditunjukkan pada saat sesi foto bersama Sani – Nurdin dan para pendukung. Tidak untuk disebar luaskan dan diperagakan. Hanya untuk sesi foto. Itu sebabnya sepanjang debat saya mengantonginya. Itupun karena berdasar surat pemberitahuan KPU Provinsi yang tidak menyebutkan alat peraga.

Setelah paslon nomor urut 1, Sani – Nurdin dipanggil naik ke atas panggung, saya berpindah tempat duduk. Saya pindah di meja depan pojok kiri. Berada satu meja dengan keluarga paslon Sani – Nurdin. Saya duduk di samping Pak Bali Dalo, Lawyer Tim Sanur.

Di belakang saya penuh dengan pendukung Soerya-Ansar. Hampir semua pendukung Soerya Ansar saya kenal baik. Di sana ada Ernawati, Lislindra Dachi, Rujito Pani, Eko, Anto, Indri, Andre, Putra Respati dan puluhan orang lainnya. Saya mengenal mereka karena dulu bersama sama dalam satu dalam perahu.

Demokrasi memberi ruang pilihan. Pilihan itu menjadi bagian dari kebebasan dan kemerdekaan berekspresi dan berpendapat. Jika dulu kami bersama, kali ini kami berbeda pendapat. Sayangnya banyak yang berteriak demokrasi tapi sesungguhnya sulit menjalankan demokrasi. Saya selalu sepakat berbeda pendapat, dan itu tak hubungan hubungan pribadi.

Saat debat berlangsung banyak teriakan menghina saya dengan kata kata tidak pantas. Jauh dari keadaban. Teriakan mereka ini berusaha memprovokasi saya. Saya tetap tenang. Tidak merespon. Tidak bereaksi. Saya fokus mendengarkan debat dan mencatatnya.

Suasana debat cukup riuh. Sorakan dan teriakan beberapa kali sering terdengar. Moderator bahkan beberapa kali mengatupkan mulutnya dengan merapatkan kedua telapak tangannya kepada para pendukung.

Selama debat berlangsung saya tetap pada posisi duduk. Tidak ke mana mana. Sibuk mencatat pertanyaan dan jawaban paslon. Meski dari belakang para pendukung paslon nomor 2 terus memprovokasi saya dengan teriakan “Woii.. kembalikan KTA-mu.” Ejekan itu berulang ulang. Saya tidak menggubris provokasi mereka.

Memasuki sesi closing statement, Sani menutup debat dengan baik. Suaranya menggelegar. Intonasinya penuh. Pilihan kata katanya kuat. Saya dan tim pendukung terpukau. Lalu serempak bertepuk tangan menyambut gembira penguasaan debat yang bagus dari Sani-Nurdin.

Akhirnya sekitar pukul 22.00 Wib, debat berakhir. Moderator meminta kedua paslon dan Anggota KPU foto bersama. Saya dan tim juga ingin foto bersama dengan Sani Nurdin. Sebelum berfoto saya membagikan stiker Sani Ayah Kita kepada keluarga paslon Sanur. Hanya 7 lembar stiker saya bagikan. Saya meminta saat foto bersama di perlihatkan di depan kamera sebagai kenang kenangan. Tidak ada maksud lain.

Tiba tiba seorang pria gemuk berpakaian merah mendekati saya. Ia berdiri disamping saya. Sekitar 30 detik. Saya curiga dengannya. Sepertinya Ia mencoba mengamat amati saya. Benar saja. Tidak lama berselang, teriakan gaduh dari belakang pecah. Saya dituduh membawa alat peraga kampanye.

Tiba tiba saja puluhan pendukung nomor 2 merangsek mendekati saya. Seorang pria bernama Eko merampas stiker dari kantong celana saya lalu berteriak menunjukkannya kepada semua orang. Situasi berubah ricuh. Teriakan, cacian, makian, hujatan tiba tiba meluncur deras dari mulut mereka.

Pendukung nomor 2 memprovokasi massa dengan menuduh saya melanggar tata tertib. Padahal tidak ada masalah sama sekali sebelumnya. Suasana tertib berubah menjadi ricuh. Aksi liar dan preman dari pendukung paslon nomor 2 nampak kasat mata terlihat. Mereka serempak beraksi berteriak keras mengagetkan semua orang yang hadir disana.

Saya terpojok. Saya berusaha tetap tenang. Tidak membalas provokasi mereka. Mereka terus merangsek dan mendesak saya dengan umpatan caci maki sumpah serapah. Ibu Sani, Ibu Rini, Ibu Nurdin Basirun nampak ketakutan. Mereka perempuan yang sudah berusia lanjut terkejut dengan suara makian dan hujatan yang semakin keras.

Di atas panggung saya melihat Cagub Soerya Respationo turun mendekati saya. Saya didesak terus oleh pendukung paslon nomor 2 hingga mendekat panggung sebelah kiri. Berjarak sekitar 20 meter dari meja duduk saya. Tidak ada jalan keluar. Saya terpojok di pojok depan sebelah kiri panggung.

Saat itu Cagub Soerya berhasil mendekati saya. Kami berhadapan wajah. Di sekelilingnya penuh dengan pendukungnya yang marah dan terus meneriaki saya dengan kata kata hinaan. Saya diam saja. Berusaha tenang meski wajah Cagub Soerya hanya berjarak sejengkal dari wajah saya. Dengan penuh amarah sambil menunjuk nunjuk muka saya, cagub Soerya mengancam dengan kata kata “Kamu macam macam dengan saya..AWAS KAMU!!! Kamu berani macam macam ..AWAS KAMU!!!”

Saya diam tenang, tidak bereaksi atas ancamannya. Saya berusaha keluar dari kepungan mereka. Lalu, saya dikejar oleh Putra Respati, anak Soerya. Saya dipepet olehnya dan diprovokasi dengan menabrakkan dadanya ke dada saya. “Apa kamu..apa kamu!!. Putra mendesak saya. Saya tidak punya pilihan lain. Saya harus bisa melepaskan diri dari kepungan mereka.

Suasana begitu tegang. Saya seperti berada dalam kepungan orang yang mau menghabisi saya. Tidak ada aparat keamanan menjaga dan menarik saya dari kepungan mereka.

Saya terpojok di tepi panggung. Tidak bisa bergerak sama sekali. Ancaman, makian, hujatan, sumpah serapah begitu kencang dan keras. Diatas panggung Ibu Rekaveny, istri Soerya memeluk saya. “Sudahlah Birgaldo, kita kan keluarga. Sudahlah Birgaldo kita kan saudara,” teriak Ibu Rekaveny dengan suara cemas.

Dari atas panggung Ibu Rekaveny mencoba menarik saya ke atas. Saya berupaya melepaskan diri. Di pojok tepi panggung itu, puluhan orang terus menghujani saya dengan sumpah serapah. Rizki Faisal anggota DPRD Kepri, pendukung Cagub Soerya menyentuh saya dengan mencubit selangkangan saya. Dua kali Rizky Faisal menyerang saya. Ketiga kali saya menepis tangannya dan menghardiknya. Rizki mundur.

Tidak ada pilihan lain. Polisi seperti tidak berupaya mengamankan saya. Akhirnya saya melompat ke atas panggung. Melepaskan diri dari kepungan mereka. Dengan langkah cepat saya berjalan menuju pintu keluar. Di sana saya bertemu dengan tim Sanur. Kami dikawal menuju lift. Lalu berjalan cepat menuju mobil Inova Putih yang sudah stand by di bawah. Saya duduk di depan bersama Pak Sani dan Ibu Sani. Kami meluncur kencang di kawal mobil patwal Polresta Barelang.

Esoknya, kericuhan usai debat publik itu menjadi berita besar di media lokal Batam. Semua menuding saya sebagai biang kerok kericuhan. Pendukung Cagub no 2 bahkan lebih mengerikan langsung membuat rencana busuk dengan menjadikan saya kambing hitam kericuhan itu.

Selebaran gelap yang entah darimana muncul tiba tiba dirangkai menjadi satu bagian dari stiker kuning Sani Ayah Kita yang dirampas dari kantong saya. Selebaran gelap bernuansa SARA berjudul ” Jeritan Bangso Batak” yang berisi adu domba dan sangat provokatif di berdampingan dengan stiker Sani Ayah Kita. Seolah olah selebaran gelap tersebut berasal dari saya.

Cacian, hujatan, sumpah serapah, fitnah keji terus menerus disebarluaskan di jejaring media sosial. Sampai saat ini, pendukung paslon nomor 2 seperti Ucok Manurung, Ani Lestari, Indra Orlando, Hayman Soleman Harahap, Ibal Zulfianto, Syam Bimbo bersama pendukung lainnya memborbardir media sosial dengan fitnah teramat keji. Mereka tanpa ampun menyiarkan fitnah hitam dengan tuduhan tuduhan yang mengiyak ngoyak akal sehat dan kebenaran.

Mereka membuat cerita hitam dengan menuduh saya menyikut pegawai KPU saat Ibu KPU mau merebut selebaran gelap dari tangan saya. Padahal sebenarnya, saya ditarik karyawan TVRI agar tidak melintas dari depan kamera yang sedang on air menyorot Reporter TVRI.

Masih belum hilang gema kata kata Cagub Soerya tentang visi misi yang diucapkannya saat debat. Masyarakat Kepri mencari pemimpin yang taat hukum, pemimpin yang berakhlak mulia, pemimpin yang bijaksana, pemimpin yang mencari solusi, pemimpin yang merangkul. Apa yang terjadi pada saya saat selesai debat adalah anti tesa dari semua yang diucapkannya di mimbar terhormat debat publik.

Saat melihat Cagub Soerya turun mendekati saya, saya berfikir Ia menenangkan pendukungnya lalu menolong saya dari sumpah serapah, cacian, hinaan dan umpatan. Cagub Soerya malahan mengancam saya dan memprovokasi pendukungnya. Padahal, Cagub Soerya adalah sahabat saya. Bertahun-tahun lalu, kami sudah bekerja sama erat membangun organisasi. Saya bisa mengkleim, dulu saya adalah orang dekat Romo Soerya.

Apa yang terjadi sungguh di luar dugaan saya. Tidak masuk akal jika stiker Sani Ayah Kita yang sejatinya untuk dipakai sesi foto selepas debat dijadikan masalah besar seolah olah kiamat bagi mereka. Bukankah stiker itu tidak diperagakan? Bukankah stiker itu tidak ada saya bagikan kepada umum? Alat peraga mana yang saya peragakan saat debat? Bahkan jika mengacu tata tertib, sama sekali tidak ada satupun yang dilanggar. Debat berlangsung baik. Keributan muncul karena provokasi pendukung paslon nomor 2 dengan merampas stiker dari kantong saya dan menunjukkannya kepada undangan.

Sani Adalah Ayah Kita (Bara BJ Kepri)

Akal sehat kita jatuh melihat arogansi premanisme belum lepas dari pendukung nomor 2. Episode pemutar balikkan fakta dan fitnah hitam menjatuhkan saya menjadi episode baru. Fitnah keji melalui pendukung paslon nomor 2 begitu gencar di media sosial. Entah apa maksudnya. Stiker yang tidak melanggar aturan apapun dijadikan alat membunuh karakter saya. Bahkan lebih sadis lagi Sang Cagub dan anaknya turun langsung mengancam saya.

Sampai saat ini, saya bersama tim hukum dan pendukung sedang mempersiapkan langkah langkah hukum terkait ancaman yang saya terima. Bagi saya, kematian itu takdir, perjuangan menegakkan nilai demokrasi dan keadilan itu perjuangan hidup. Jika karena ini saya mati di tangan para pengancam dan perusak demokrasi saya siap untuk itu. Tak ada gentar sedikitpun dari saya. Saya siap untuk itu semua.

Salam Sani Ayah Kita

Birgaldo Sinaga
Ketua DPD Bara JP Kepri