Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menginginkan negara-negara tetangga dapat membeli langsung ikan-ikan Indonesia yang telah dilabuhkan di pelabuhan-pelabuhan Indonesia dan bukannya membawa kabur ke negara mereka.

“Kita mau mereka (negara-negara tetangga) membeli langsung dari kita,” kata Susi Pudjiastuti di Jakarta, Senin, 1 Desember 2014.

Sebagaimana diketahui, pencurian ikan di kawasan perairan Indonesia kerap terjadi dengan adanya kapal-kapal asing yang menangkap sumber daya perikanan Indonesia.

Namun, kapal-kapal tersebut tetap tidak melabuhkannya di tempat pelelangan ikan milik Indonesia tetapi malah membawa kabur ikan Indonesia ke negara mereka masing-masing.

Dengan adanya kebijakan moratorium dan ditambah dengan larangan melakukan transhipment (alih muatan di tengah laut), maka Susi mendengar bahwa pasokan ikan ke sejumlah negara tetangga menjadi menipis yang berpengaruh juga kepada tingkat harga.

“Saya belum mendengar penurunan pasokannya seberapa banyak, tetapi saya dengar harga ikan di negara tetangga meningkat,” katanya.

Menteri Kelautan dan Perikanan juga menambahkan, berdasarkan laporan yang diterima harga sejumlah jenis ikan mulai menurun di sejumlah daerah di Tanah Air.

Di tempat terpisah, Wakil Ketua Umum Kelautan dan Perikanan Kadin Indonesia Yugi Prayanto mendorong pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat pengolahan hasil perikanan dunia yang dinilai selaras dengan konsep Poros Maritim Dunia yang digaungkan Presiden Joko Widodo.

“Kami optimistis, dengan menjadikan Indonesia sebagai pusat pengolahan perikanan dunia, maka nilai ekspor nasional akan meningkat dari 4,1 miliar dolar AS pada 2013, menjadi 40 miliar dolar AS pada 2019,” kata Yugi Prayanto.

Menurut Yugi, langkah menjadikan Indonesia sebagai pusat pengolahan perikanan dunia, harus dilakukan segera, mengingat potensi kelautan dan perikanan Indonesia yang sangat besar. (ant)