Yusril Ihza Mahendra sedang diuji kapasitasnya sebagai pemimpin. Kala menghadiri undangan syukuran di Bidara Cina, Janitegara, Jakarta Timur, atas kemenangannya membela warga yang terkena proyek sodetan Kali Ciliwung – KBT, mobil pribadi Calon Gubernur DKI Jakarta itu disirami cat oleh seseorang yang tidak diketahui identitasnya.

Sekembalinya dari undangan syukuran tersebut, mobil Mercedes Benz hitam tipe S 350 bernomor polisi B 1026 miliknya itu sudah berlumuran cat berwarna kuning pada bagian samping depan hingga belakang mobil produksi Jerman tersebut. Tidak jauh dari TKP ditemukan plastik berisikan cairan kuning yang diduga digunakan oleh pelaku.

Kendati demikian, Ketua Umum Partai Bulan Bintang itu enggan melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwajib. “Saya tidak berminat melaporkannya ke polisi. Saya maafkan sajalah pelakunya. Saya tidak menganggap itu sebagai “Teror” mental dan sejenisnya yang akan membuat saya surut dalam membela rakyat tertindas dan terpinggirkan,“ kata Yusril kepada SwaraSenayan, Selasa (3/5/2016).

Yusril dengan bijak mengatakan bahwa dalam memperjuangkan sesuatu, akan selalu muncul pro dan kontra. Sesuatu yang menurutnya lumrah dalam alam demokrasi dimana pun itu. Namun, lanjut Yusril, dalam berdemokrasi seseorang dituntut untuk berfikir secara dewasa agar segala perbedaan yang ada dapat berkoeksisten dikehidupan bermasyarakat.

“Orang yang menuangkan cat ke mobil saya itu anggap saja belum dewasa dalam berdemokrasi sehingga dia gunakan cara-cara seperti itu untuk mengekspressikan perbedaan pendapat dan kepentingannya,” katanya.

Justru mantan Menteri Sekretaris Negara itu mengapresiasi bentuk perlawanan warga Bidara Cina yang selama ini melakukan perlawanan terhadap Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atas proyek sodetan kali Ciliwung – KBT dengan cara-cara yang beradab.

“Sebagian besar warga Bidara Cina meski hidup sederhana malah cukup dewasa dalam berdemokrasi. Mereka melawan Gubernur Ahok tidak gunakan cara-cara brutal, tapi gunakan hukum untuk kalahkan Gubernur dan mereka berhasil,” tutup mantan Menteri Hukum dan Perundang-undangan itu. (ss)