Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Kepulauan Riau Sani-Nurdin dinyatakan sebagai pemenang Pilkada versi hitung cepat dan rekapitulasi sementara C1 KPU. Sani-Nurdin unggul dengan selisih sekitar 50.000-an suara atau sekitar 7 persen dari pesaingnya Soerya-Ansar, yakni 53,4 persen berbanding 46,6 persen.

Terkait kemenangan itu, Ketua Tim Sukses Sani-Nurdin Ahars Sulaiman buka suara. Menurutnya, kemenangan pasangan nomor urut 1 itu buah dari kerja keras seluruh tim berbulan-bulan sebelum pelaksanaan Pilkada.

“Tim kami terorganisir secara rapi dari tingkat provinsi, kota, kecamatan, kelurahan atau desa hingga TPS. Semua pergerakannya terkonsolidasi dalam satu sistem,” katanya ketika dihubungi, Sabtu (12/12).

Sistem yang dimaksud, lanjut Ahars, fokus pada upaya membangun kekuatan organisasi di tingkat TPS. Hampir tidak ada TPS di seluruh Kepri yang tidak tersentuh oleh jaringan pemenangan Sani-Nurdin.

“Sistem itu kita sebut grassroot  operasion (GRO). Karena kita sadar pertarungan di Pilkada adalah pertarungan di pemilih akar rumput atau TPS,” tegasnya.

Ahars mengatakan, sistem GRO tersebut tidak akan terkalahkan kecuali oleh sistem yang sama. Apalagi oleh cara-cara seporadis yang cenderung tidak terorganisir dengan baik dan rapi.

“Kedua, gaya komunikasi kandidat kami yang lebih mengedepankan silaturrahim, menyapa dan mendatangi warga,” sambungnya.

Meski usia calon gubernur H.Muhammad Sani terbilang tua, kata Ahars, semangat dan fisiknya tak kalah dengan yang berusia muda. Bahkan dalam sehari, Sani bisa mengunjungi tempat warga di lima titik pulau berbeda.

“Kepri 96 persen wilayah kepulauan. Tapi beliau biasa saja mendatangi warga dari pulau satu ke pulau lainnya,” ungkap Ahars.

Ketiga, Tim Pemenangan Sani-Nurdin berpijak pada metode ilmiah. Kami memakai survey sebagai basis analisis dan strategi. Survey rutin kami lakukan bekerjasama dengan kantor survey kredibel. Analisis mereka kami pakai untuk perbaikan strategi. Intinya kami menjalankan rekomendasi dari survey.

Sementara itu, Direktur lembaga Konsultan Sosial, Ekonomi, Politik Indonesia (Konsep Indonesia atau KONSEP Indo) Veri Muhlis Arifuzzaman mengungkapkan, di era Pilkada ini tak bisa lagi menggunakan model kampanye tradisional. Pasalnya, model itu sudah sering diterapkan sehingga kurang menarik di mata pemilih.

“Misalnya, kampanye akbar dengan mobilisasi massa di satu titik, semua kandidat pasti melakukannya,” ujar konsultan pemenangan Sani-Nurdin ini.

Karena itu, ia lebih menyarankan kampanye berbasis komunitas (based community campaign). Kampanye model ini bukan diadakan oleh kandidat untuk massa pemilih, melainkan berdasarkan permintaan komunitas dan organisasi tingkat TPS atas kandidat.

“Bentuk dan kemasannya pun berbeda-beda. Tergantung pada kebutuhan komunitas. Ini lebih mengena, karena tiap komunitas punya karakteristik tersendiri,” tandasnya. (ind)