Muktamar VIII PPP yang digelar di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta sejak Jumat, 8 April 2016 hingga Senin, 11 April 2016 diikuti oleh 1.767 peserta yang terdiri dari 532 peserta DPP, 91 peserta DPW dan 1.144 peserta dari DPC.

Dalam kaitannya dengan proses pengambilan keputusan dalam muktamar, hanya peserta dari DPW dan DPC yang berjumlah 1235 orang yang memiliki hak suara. Pemegang hak suara adalah ketua dan sekretaris DPW dan DPC beserta suara perimbangan yang didasarkan atas perolehan kursi DPRD tingkat provinsi dan Kabupaten Kota.

“DPW dan DPC adalah produk Muktamar VII PPP Tanggal 3-6 Juli 2011 lalu di Bandung yang telah melalui dinamika organisasi sesuai tingkatannya. Saat ini sudah teregistrasi 1880 peserta dari 34 provinsi di Indonesia,” kata Sekretaris Jenderal PPP Romahurmudzy di arena muktamar, kemarin.

Pemilihan Asrama Haji sebagai lokasi muktamar, diakui pria yang akrab disapa Romy itu adalah untuk mengembalikan semangat kebersamaan para kader PPP sejak Muktamar I sampai IV yang melahirkan banyak tokoh, salah satunya mantan wakil presiden Indonesia, Hamzah Haz. Tempat ini pun dianggap sederhana dan layak sebagai cerminan bagi para kader untuk senantiasa berempati pada masalah-masalah yang masih terjadi di negeri ini.

“Selain itu, satu-satunya tempat yang punya ka’bah terbesar di Indonesia ya Asrama Haji,” ucapnya berkelakar.

Dinamika panjang penyelenggaraan Muktamar VIII yang sempatĀ  membagi partai berlambang Ka’bah ini ke dalam dua kelompok pun diharapkan bisa selesai di muktamar ini. Dirinya pun memastikan, tak ada cacat hukum dalam muktamar ini. Sebalikya dirinya malah tak memahami putusan MA yang tidak mengesahkan suatu muktamar, namun mengesahkan pengurusnya.

“Padahal pengurus adalah produk sebuah muktamar. Makanya diperlukan terobosan politik untuk menyelesaikan perbedaan di tubuh PPP dengan kembali ke kilometer nol,” ucapnya.***