Palembang – Tokoh masyarakat Kota Palembang H. Mularis Djahri, mengajak warga Kota Palembang untuk membangun kultur moderat. Secara sederhana moderat artinya sedang yaitu tidak kecil maupun besar dalam suatu suatu ukuran, jumlah, derajat, atau kekuatan. Moderat berarti menghindarkan pengungkapan atau perilaku yang ekstrim. Dalam bidang politik, orang yang berpikiran atau berpendapat moderat adalah orang yang mempunyai pikiran yang tidak ekstrim sehingga orang tersebut bisa diterima oleh orang banyak. Demikian kesimpulan yang dipetik dari uraian singkat Mularis Djahri dalam acara “Temu Warga Bersama Mularis-Lury” yang digelar di Warung Ayam Bakar Mas Kumis, di Kawasan Komplek OPI, Kecamatan Seberang Ulu I, Palembang. (15/7).

Lebih jauh Mularis menyatakan, saat ini dunia sedang dilanda wabah menakutkan dan amat berbahaya, yaitu suatu gerakan baik teorganisir maupun individu yang berujung pada kerusakan, kematian dan kehancuran. Seringkali ini mengatasnamakan perintah tuhan. Teologi teror telah terjadi di banyak lokasi. “Ini menakutkan, berbahaya bagi keutuhan dunia, mengacaukan ketertiban dan kedamaian hidup manusia,” ujarnya.

Mularis menegaskan dirinya sering mengatakan dalam banyak kesempatan, lebih baik bekerja dari pada membicarakan orang lain, tidak ada gunanya itu. “Carilah teman sebanyak mungkin selagi kita diberikan kesempatan hidup.  Mengalahlah jika ada masalah, sehingga orang tidak mau bermasalah sama kita. Tiada kata yang indah selain ucapan permohonan maaf atas segala salah dan dosa yang sudah kita perbuat,” pungkasnya.

Sementara pengusaha muda dan duta pemberantasan narkoba Provinsi Sumatera Selatan, Hj. Lury Elza Alex Noerdin menambahkan pentingnya hidup menghindari bahaya. Semua harus kembali kepada ajaran agama yang menempatkan etika atau akhlak sebagai hal utama. Lury Elza yang didaulat menjadi bakal calon Wakil Walikota Palembang ini juga mengajak warga untuk sama-sama mengamalkan agama secara benar agar tidak terjerumus ke dalam aktivitas yang berbahaya, baik membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

“Narkoba contohnya, itu bahaya jika disalahgunakan. Bisa membunuh banyak generasi. Apalagi kegiatan ekstrimisme yang meneror. Keduanya amat bahaya, penyalahgunaan narkoba dan terorisme adalah dua hal yang sangat bisa menghancurkan bangsa,” ujarnya.

Lury mengajak warga untuk tidak memperlakukan agama laksana monumen yang beku, kaku, dingin dan mencekam tetapi harus memperlakukannya lebih ke dalam suatu kerangka iman yang aktif dan dinamis. “Dalam hidup bermasyarakat kita bertemu, bergaul dan berbaur dengan berbagai macam orang. Dimana setiap orang memiliki pandangan dan kepentingan masing-masing. Jika tidak disikapi dengan baik maka akan timbul benturan kepentingan yang menyebabkan perselisihan dan kericuhan. Dalam menyikapi perbedaan itulah penting bagi kita mencari jalan tengah dan menghindari perilaku atau sikap yang ekstrem,” pungkasnya. (Fie/Red)