Bidang Arsip dan Museum Pusat Data dan Informasi (PUSDATIN)Sekretariat Jenderal DPR RI menyelenggarakn Forum Group Discussion (FGD) yang bertema “Pelayanan Museum dan Pemanduan yang Informatif dan Atraktif” di ruang rapat Bidang Arsip dan Museum, Gedung Nusantara I Lt dua, Jumat (15/9/2017). Dalam diskusi tersebut Kapala Bidang Arsip dan Museum Lili Trisna Ningsih menyampaikan, Museum DPR membutuhkan SDM yang cukup.
“Kita sangat-sangat kekuarangan SDM, membesarkan museum jangan setengah hati harus total, SDM-nya Anggarannya. Belum lagi pekerjaan kearsipan, tanggungjawab menyelamatkan dokumen negara, khususnya dokumen yang menjadi produk DPR RI,” jelasnya saat membuka berdiskusi.
Saat diskusi juga dibahas soal museum yang mempunyai tugas mengelola aset-aset bersejarah dan monumental. Secara khusus pengelolanya memiliki tanggung jawab yang besar dalam pelestariannya. Pelestarian yang dimaksud meliputi aspek pelindungan pengembangan dan pemanfaatannya.
Dalam pengelolaan museum, perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan masih perlu didukung dengan aspek-aspek lainnya seperti perencanaan, pendanaan, dan lain-lain. Oleh karena itu maka di dalam struktur organisasi museum baik yang besar atau pun kecil memiliki urusan yang bersifat teknis dan administratif.
Sebagai contoh adalah lembaga pelestarian warisan budaya tertua di Indonesia yang awalnya bernama “Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen’, yaitu Museum Nasional. Museum yang pada tanggal 24 April 2017 genap berusia 239 tahun memiliki struktur organisasi yang meliputi kedua aspek tersebut.
Tertuang di dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 48 Tahun 2012 tentang Organisasi Tata Kerja Museum Nasional, bahwa pengelolanya terdiri atas Kepala yang dibantu oleh 5 bidang teknis dan satu bagian administratif yaitu Tata Usaha.
Bidang-bidang teknis meliputi Bidang Pengkajian dan Pengumpulan Bidang Registrasi dan Dokumentasi, Bidang Perawatan dan Pengawetan, Bidang Penyajian dan Publikasi, serta Bidang Kemitraan dan Promosi. Penjelasan tersebut dipaparkan oleh pembicara dari Museum Nasional Dedah R Sri Handari. (*/ind)