Tanggal 4 November Jakarta memutih, penuh oleh demonstran. Mereka menuntut Ahok diadili karena diduga telah menistakan agama Islam yang dianut mayoritas penduduk Indonesia. Demonstrasi besar ini telah menyita perhatian banyak pihak termasuk para pemegang remote control kekuatan politik bangsa. Presiden Jokowi bahkan sengaja datang ke Hambalang menemui Prabowo, juga mengundang para ulama dan pemimpin redaksi media massa ke istana. Saat yang sama mantan presiden SBY melakukan muhibah ke Wapres Jusuf Kalla dan berkunjung ke kantor kemenkopolhukam Wiranto. Hiruk pikuk akibat perbuatan Ahok ini, kini menjadi perhatian massa, apakah akan berpengaruh terhadap nasibnya di Pilkada DKI.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Indopolitika melakukan wawancara dengan pengamat politik Veri Muhlis Arifuzzaman dari kantor konsultan politik dan lembaga riset Konsep-Indonesia, berikut petikannya:

Bagaimana Anda melihat keterlibatan Jokowi, Prabowo, SBY, JK, Wiranto dan banyak tokoh lain akibat kasus penistaan agama oleh Ahok itu?

Seharusnya sih biasa saja, tapi memang jadi menarik karena pada emosi. Seandainya semua jernih, berpikir adem, bertindak tentram, tidak sumbu pendek, tak cepat meledak, mungkin gak akan seheboh ini.

Saya berandai-andai, jika Pak Jokowi gak datang ke Hambalang, mungkin suasana tak akan dianggap genting. Begitu juga jika SBY tak berkunjung ke Pak JK dan Pak Wiranto, mungkin soal penistaan agama oleh Ahok ini gak akan seperti ini. Maksud saya gak seperti mencekam begitu lho.

Saya kok melihat kasus ini sederhana. Proses hukum tapi pilkada tetap berlangsung. Hanya karena semua bicara, komentar, jadilah lautan buih di media sosial dan media massa. Semua terlibat pro dan kontra. Kalau sudah begitu, ya hanya akan ada dua kubu. Siapa kawan siapa lawan, yang sepaham jadi kawan yang tak sepaham jadi lawan, kasihan yang tak paham.

Saya melihat kasus penistaan agama oleh Ahok ini jadi semacam ujian, akan loloskah Indonesia menjadi negara demokrasi besar? Jika kasus ini berujung chaos, maka demokrasi kita berantakan.

Apa karena Ahok di-backup istana?

Perlu bukti detail apa di-backup langsung atau tidak. Saya justru melihat Ahoknya yang bermasalah. Secara personal dia bermasalah. Watak pribadi dan bicara ceplas-ceplosnya itu yang suka bikin repot. Kadang terlalu polos atau berani masuk ke wilayah agama lain, ini kan yang sekarang jadi soal. Berat ini, tapi sudah terjadi. Mustahil Ahok mau mundur gara-gara soal ini.

Bagaimana Anda memprediksi ending-nya kasus ini?

Endinya akan damai sih. Saya menduga akan berujung kompromi. Itu ciri khas politik kita. Hanya memang pilkada DKI jadi bikin geger, bisa-bisa suatu saat akan dihilangkan. Jadi gak perlu pilkada di DKI. Gubernurnya langsung saja ditunjuk presiden, jadi menteri ibu kota.

Bagaimana dengan nasib Ahok? Apakah akan terpilih atau akan dipenjara?

Dipenjara kenapa? Jumping pertanyaannya. Kalau diperiksa, diselidik, disidik, diadili itu mungkin, tapi gak sebentar dan gak mudah. Saya kira pihak berwajib akan menjalankan tugas fungsinya, kasus ini pasti masuk prioritas karena sudah jadi perhatian dunia.

Saat yang sama pilkada DKI akan berjalan lancar. Jika Ahok lolos dari dampak kampanye negatif atas dirinya, mungkin akan bangkit. Kalau satu bulan ini saya menduga elektabilitasnya akan terjun sampai batas psikologis tertentu, tapi akan bangkit pada waktunya, jika kompromi memutuskan untuk mendahulukan menjaga pilkada berlangsung. Saya memprediksi, kalau Ahok lolos ke putaran kedua, dia malah bisa menang. Ini dugaan saya sekarang. Ini karena saya melihat, dua pasang penantangnya tak bergerak membangun dan membina organ pemenangan di basis akar rumput, di TPS-TPS.

Pilkada itu beda sama pileg. Pileg itu hajatnya partai, kalau pilkada ya hajatnya pasangan calon. Tidak pernah ada koalisi permanen nasional dan regional di negara ini. Di Pilkada DKI mungkin beberapa partai berserikat mengusung satu pasang calon, di Pilkada lain mungkin berhadapan, tidak berkoalisi. Jadi pasangan calon yang mengandalkan koalisi parpol pengusung dalam waktu 3 bulan ini, pasti akan repot. Bisa mendamaikan perbedaan kepentingan antarparpol pengusung saja sudah hebat.

Anda memprediksi pasangan penantang tak akan mampu kalahkan Ahok?

Ahok itu bisa dikalahkan. Berbagai survei menunjukan elektabilitas Ahok terus turun. Itu kan signal dia bisa dikalahkan. Tapi persoalannya, suara yang beralih atau menunggu itu pindah ke siapa? Ini harus dicek. Kalau dari tadinya akan memilih Ahok kemudian jadi tak memutuskan, menunda keputusan, tak menjawab atau menyatakan rahasia, ya sangat mungkin bisa balik lagi ke Ahok.

Point saya adalah dua pasang penantang ini tak cukup mampu memikat pemilih mengambang. Padahal kesempatannya ada. Tentu pengecut kalau mau menang dengan menunggu Ahok gugur karena kasus hukum ini.

Terakhir, Anda optimis pilkada DKI akan berlangsung mulus?

Optimis sekali. Optimisme ini penting dibangun semua pihak. Itu karena pilkada adalah sarana partisipasi politik rakyat yang nyata, ini anugerah. Suara petani sama dengan suara guru besar. Suara kondektur sama dengan suara direktur. Jadi harus optimis dan menjadi tugas kita bersama menyukseskan Pilkada serentak 2018 ini. Ada 100 lebih pilkada dengan 7 pilkada gubernur, bukan hanya di DKI. Siapapun yang menang kontes dan menjadi pasangan gubernur dan wakil gubernur DKI terpilih pastilah hebat. Mampu lolos dari batu sandungan yang besar ini, semoga yang terpilih tidak tegoda ikut pilpres 2019, biar pilkada DKI tetap bercitarasa pilkada, bukan pilkada rasa pilpres. (ind)