Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini menyambut baik keinginan panitia Khusus (Pansus) Rancangan Undang-undang (RUU) Pemilu untuk studi banding terkait e-voting dalam pemilu. Tapi hal ini tentu akan menimbulkan segudang pertanyaan.

“Mempelajari e-voting dari pengalaman negara lain yang pernah menerapkannya adalah langkah yang tepat. Hanya saja, pilihan DPR untuk belajar e-voting dari Meksiko menimbulkan segudang pertanyaan. Kenapa harus di Meksiko. Ada apa?,” tanya Titi melalui siaran persnya di Jakarta, Rabu (15/3/2017).

Padahal banyak negara lain yang jauh lebih layak dijadikan sumber pembelajaran.

“Banyak sekali negara-negara lain yang jauh lebih lama dan lebih layak untuk dijadikan sumber pembelajaran selain Meksiko, tapi kenapa harus ke Meksiko,” tanya dia retoris.

Titi juga memaparkan beberapa negara yang juga berpengalaman soal teknologi pungut hitung antara lain: Brazil, Venezuela, India, Philippina, Korea Selatan, Australia, Belanda, Irlandia, Paraguay,

Ia pun menganjurkan sebaiknya Pansus RUU penyelenggara Pemilu fokus saja melanjutkan pembahasan RUU Pemilu yang punya tenggat penyelesaian sangat ketat sehingga tidak mengganggu persiapan tahapan Pemilu 2019. (pr/ind)