Indopolitika.com   Pemilihan Presiden (Pilpres) 9 Juli sudah di depan mata. Masa kampanye telah berakhir dan sebagian besar rakyat Indonesia sudah menentukan pilihannya. Lembaga pemantau percakapan dalam Sosial-Media (Sosmed) PoliticaWave telah memantau aspirasi masyarakat Indonesia di dunia maya, melalui 6 media yaitu Twitter, Facebook, Blog, Forum, Online News dan Youtube.

Setiap percakapan terkait pasangan Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) di media-media tersebut dicapture, dikelompokkan dan dianalisa oleh platform PoliticaWave.

Semua BOT dan akun-akun spammer juga difilter dalam proses ini sehingga percakapan yang dihitung hanya yang berasal dari netizen asli.

Pendiri Politicawave, Yose Rizal, mengemukakan, hasil pemantauan lembaganya periode 8 Juni 2014 hingga 5 Juli2014 mencatat 5.977.879 percakapan dan 1.592.323 netizen yang melakukan percakapan terkait kedua pasangan Capres dan Cawapres.

Share of Awareness (Perbandingan Jumlah Percakapan) pada periode ini menunjukkan keunggulan pasangan Joko Widodo (Jokowi) – Jusuf Kalla (JK) sebesar 60,5 persen dibandingkan pasangan Prabowo Subianto – Hatta Rajasa sebesar 39,5 persen.

Dari perbandingan jumlah netizen yang melakukan percakapan (Share of Netizen) menunjukkan keunggulan pasangan Jokowi-JK sebesar 53,8 persen dibandingkan pasangan Prabowo-Hatta sebesar 46,2 persen. PoliticaWave juga memetakan sentimen netizen terhadap kedua pasangan. Setiap percakapan diberi makna sentimen positif, negatif atau netral. Berdasarkan margin antara sentimen positif dan negatif (Net Sentimen), Jokowi-JK mengungguli pasangan Prabowo-Hatta dengan Net Sentimen 3,5 kali lebih positif.

“Dari ketiga metrik yang ada menunjukkan bahwa lebih banyak percakapan dan netizen yang melakukan percakapan tentang pasangan Jokowi-JK. Sentimen percakapan tentang Jokowi-JK pun lebih positif daripada Prabowo-Hatta. Sehingga dapat disimpulkan menurut netizen pasangan Jokowi-JK akan berhasil memenangkan Pemilu Presiden 2014 dengan elektabilitas sebesar 53,8 persen dan Prabowo-Hatta mendapat elektabilitas sebesar 46,2 persen,” kata Rizal di Jakarta, Minggu (6/7).

Ia menjelaskan berdasarkan pengalaman PoliticaWave, 10 dari 12 Pilkada dan Pileg dimenangkan oleh kandidat yang percakapannya paling besar dan paling positif.

Menurutnya, kedua pasangan Capres-Cawapres memanfaatkan media sosial sebagai kanal komunikasi dengan masyarakat. Mereka menyadari bahwa saat ini sebagian masyarakat menggantungkan sumber informasinya dari layar smartphone dan layar laptopnya.

Jumlah pengguna internet dan media sosial di Indonesia saat ini mencapai sekitar 70 juta orang. Mereka merupakan kalangan terdidik, terbiasa berargumentasi dan mempengaruhi lingkungan sekitarnya.

Mereka adalah Social Influencer, yang bisa mempengaruhi tidah hanya dilingkungan onlinenya atau dunia maya saja, tapi juga di lingkungan offlinenya atau dunia nyata. Banyak sekali konten dan informasi yang berasal dari percakapan di media sosial menyebar dan dibicarakan oleh masyarakat yang tidak memiliki akun media sosial.

Rizal menjelaskan, terdapat perbedaan dalam menggunakan media sosial antara tim Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK. Di tim Prabowo-Hatta, sistem komunikasi lebih terstruktur dan organized. Komunikasi biasa dimulai dari akun official terkait partai atau pengurus partai.

Terdapat keseragaman dalam berkomunikasi dan menjawab isu. Sementara tim Jokowi-JK tidak diorganized secara baik oleh partai. Kekuatan komunikasi Jokowi-JK di media sosial justru didukung oleh banyak grup relawan.

“Awalnya mereka tidak terlalu organized, banyak jawaban atas isu yang tidak seragam. Namun sejak debat pertama, terlihat bahwa antar kelompok relawan sudah berkomunikasi dan bersinergi dengan lebih baik. Salah satu indikatornya pada semua debat, dukungan netizen terhadap pasangan Jokowi-JK lebih besar daripada Prabowo-Hatta,” kata Rizal.

Kedua tim juga melakukan berbagai kampanye kreatif di media sosial, seperti dalam bentuk infografik, gambar-gambar kreatif, aplikasi, game, lagu dan video.

Netizen menyukai berbagai kampanye kreatif tersebut dan meningkatkan partisipasi dan interaksi aktif netizen, terutama para early voters. Namun sayang, selain kampanye kreatif media sosial juga dipergunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan kampanye hitam.

Kampanye hitam adalah kampanye yang menyerang kandidat dengan berbagai isu negatif tanpa disertai oleh data dan fakta, alias fitnah. Kampanye hitam berbeda dengan kampanye negatif. Kampanye negatif adalah kampanye yang menyerang kandidat dengan isu negatif, tapi disertai oleh data dan fakta.

Selama periode Mei-Juni 2014 ada 458.678 percakapan dengan konten tentang fitnah atau kampanye hitam. Jokowi-JK merupakan pasangan yang paling banyak diserang oleh kampanye hitam, dengan prosentase 74,5% serangan kampanye hitam dan 25,5% kampanye negatif.

Pasangan Prabowo-Hatta lebih banyak mendapat kampanye negatif sebesar 83,5% dibandingkan kampanye hitam sebesar 16,5%. Kampanye hitam terhadap Prabowo-Hatta yaitu Memiliki 2 kewarganegaraan, tuduhan Psikopat, Video pemukulan di KPU, Transaksi saham palsu dan video kampret. (bs/ind)