Direktur Pusat Studi Sosial dan Politik (Puspol) Indonesia, Ubedilah Badrun, menyatakan kubu yang inginkan Munas Golkar tandingan pertanda tidak percaya diri melawan Ical dalam Munas Golkar di Bali. Padahal, seharusnya mereka berani bertarung dalam forum Munas.

“Yang fair saja di Munas Bali. Itu forumnya. Bukan dengan Munas tandingan,” ujar Ubed, saat dihubungi, Ahad (30/11).

Jika diperhatikan, kubu yang tidak setuju dengan Ical tidak memiliki dukungan internal yang kuat. Agung Laksono dan Priyo Budi Santoso misalkan, terbukti tidak memiliki basis massa pendukung. “Mereka gagal nyaleg,” imbuhnya.

Agung pada pileg 2009 maju sebagai caleg namun gagal. Hal sama dialami Priyo Budi pada pileg kemarin. Selain itu, Ubedillah menjelaskan, kubu presidium penyelamat partai Golkar penuh dengan intervensi eksternal Golkar.

Kehadiran mereka membuktikan pengaruh luar Golkar yang ingin mengobrak-abrik partai berlambang beringin ini. “Bisa jadi mereka dari KIH,” imbuh Ubed.

Baik Agung maupun Priyo, secara kekuatan finansial dilihatnya tidak kuat menghadapi Ical. Struktur politik Golkar juga tidak mereka pegang. Jadi sangat tidak mungkin bagi mereka untuk memegang tampuk kekuasaan kepemimpinan di Golkar.

Keduanya, menurut Ubed, hanya ingin mendapatkan peran politik baru, karena keduanya sudah tidak lagi terpakai dalam dinamika perpolitikan saat ini. Pada pemerintahan SBY lalu, Agung adalam menkokesra. Kini dia tidak lagi menjadi menteri.

Tidak juga menjadi anggota DPR. Sedangkan Priyo Budi, pernah menjadi pimpinan DPR. Sekarang dia tidak memegang posisi apapun, karena kemarin pada pileg, gagal meraih kursi dari dapilnya di Jawa Timur. (rp/ind)