Palembang – Beberapa hari menjelang pendaftaran peserta pilkada Sumsel 2018 ke KPUD, jagat maya masih disibukkan dengan persoalan formasi bakal calon. Setelah pasangan Herman Deru – Mawardi Yahya menjadi pasangan pertama yang lengkap syaratnya, publik masih dibuat bingung dengan calon lainnya. Beberapa bakal calon gubernur diketahui memperebutkan bakal wakil dari partai yang sama yakni Giri Ramanda Kiemas, Eddy Santana Putra dan Irwansyah, semuanya kader PDI Perjuangan, padahal menurut aturan internalnya partai hanya akan memberi satu rekomendasi pada satu kader dan kader lain yang tidak direkom wajib patuh.

Terkait perebutan kader PDI Perjuangan tersebut, Dodi Reza Alex terlihat betul ambisinya untuk berpasangan dengan Giri Ramanda Kiemas, bahkan untuk bisa berpasangan tampak telah disiapkan tagline dan propaganda sebagai pasangan ‘muda’. Diklaimnya bahwa yang muda potensial akan menang. Entah apa dasar analisisnya, tiba-tiba dibangun asumsi itu, tanpa ada data pendukung survei atau contoh penguat atas argumen itu. Saat yang sama klaim ‘muda’ juga dipakai oleh Aswari Riva’i yang tampak berkehendak bisa disandingkan dengan Irwansyah.

Melihat realitas tersebut dapat disimpulkan, motto ‘muda’ jadi rebutan klaim para bakal calon yang masih jomblo itu. Dodi dan Aswari sama-sama mengklaim sebagai calon ‘muda’ dan karena ‘muda’ maka akan menang. Menanggapi fenomena tersebut, pengamat pilkada Mus S Galih dari Lembaga Indopolitika Institute menyatakan tidak ditemukan rumus pilkada dimana kalau ‘muda’ maka akan menang. Menurutnya rumus begitu pasti mengarang atau memenuhi pesanan. “Apa dasarnya? Karena muda lalu akan menang begitu? Dari mana dapat rumus begitu. Satu-satunya alat teropong siapa punya potensi menang itu ya survei. Menurut survei, siapa yang bakal menang, ya itu yang akan menang,” ujarnya kepada wartawan saat ditelpon sore tadi, Sabtu, 30 Desember 2017.

Mus menambahkan, di Pilkada Sumsel yang lalu, klaim muda juga diambil Herman Deru tetapi kemenangan diraih oleh Alex Noerdin. Pemilih saat itu lebih suka figur yang berpengalaman. Kini hal yang sama masih berlaku, dalam beberapa rilis survei yang berhasil dihimpun, tak bisa dipungkiri responden lebih memilih kandidat merakyat, berpengalaman dalam
pemerintahan dan bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme atau dinasti politik. “Survei Populi Center dari Jakarta jelas mengungkapkan 32 persen publik Sumsel memilih Herman Deru karena tiga hal itu. Selisih dengan Dodi cukup jauh bisa 3 kali margin of error,” ungkapnya.

Dalam konteks membandingkan para bakal calon yang ada sekarang, Mus menyatakan, isu ‘muda’ agak sulit jadi faktor pembeda atau diferensiasi. Beda usia antara Dodi Reza Alex (47 tahun), Herman Deru (50 tahun) dan Aswari (54 tahun) tidak terpaut jauh, semuanya masih muda. “Jika sama-sama muda, pemilih akan memilih yang lebih berpengalaman dan memiliki program yang menjanjikan perbaikan, perubahan dan koreksi atas kekurangan yang ada sekarang,” tuturnya. (Fied)