Dinamika Pilkada Serentak 2018 di 171 daerah mulai menghangat. Sejumlah provinsi besar seperti Jawa Timur menjadi sorotan. Publik bertanya-tanya siapakah yang akan memenangkan Pilgub Jatim dari dua kompetitor yang ada saat ini yaitu Saifullah Ahmad-Azwar Anas vs Khofifah-Emil Dardak.
Peneliti Indikator Politik Indonesia, Burhanudin Muhtadi, berpendapat, panasnya kontestasi di Pilgub Jatim 2018 karena wilayah Jatim telah dijadikan barometer pemilu presiden sejak 2014 lalu. Menurut dia, dua kompetitor yang ada di Jatim saat ini masih berpeluang untuk menang.
“Tapi Khofifah pintar memilih wakilnya (Emil Dardak). Dari sisi presentasi politik Emil Dardak punya nilai tambah karena dia mewakili satu subkultur masyarakat Jatim yang menjadi basis nasionalis terutama di wilayah sekitar Mataraman,” kata Burhanudin usai menghadiri acara diskusi di kawasan Menteng Seperti yang dikutip dari Laman Kumparan.com, Jakarta Pusat, Rabu (28/11).
Menurut Burhanudin, sosok Emil Dardak ini mewakili anak muda yang ada di Jatim. Selain itu, mewakili kelompok pemilih yang tinggal di subkultur Mataraman yakni sekitar Trenggalek, Pacitan, Ponorogo, dan sekitarnya. Sehingga, hal itu dapat menambah nilai elektoral untuk Khofifah.
Sementara, menurut Burhanudin, Azwar Anas-Gus Ipul merupakan kalangan dari satu tapal kuda yang sama. Meskipun Azwar Anas kader PDIP, tetapi dia lebih kuat ke NU.“Sementara, Gus Ipul NU juga. Nah jadinya kaya semacam tidak memberi nilai tambah,” ujar dia.
“Meskipun dari prestasi saya harus akui bahwa Azwar Anas lebih hebat ketimbang Emil Dardak,” imbuh Burhanudin.
Dia menambahkan, siapapun partai politik yang akan memenangkan Pilkada Jatim, secara nasional umumnya akan memenangkan Pilpres 2019.
“Jadi Jatim itu menjadi menarik karena hasil Pilkada di Jatim itu seolah-olah menjadi indikator di 2019,” tutupnya.