Jakarta – Memperjuangkan kebenaran memang ada tempatnya, tapi tempatnya bukan di pilkada. Pilkada itu terlalu rendah jika dijadikan tempat memperjuangkan kebenaran kecuali memang hanya lewat pilkadalah kebenaran itu bisa diraih.

Menurut Pengamat politik Konsepindo Research & Consulting Veri Muhlis Arifuzzaman soal memperjuangkan kebenaran di ruang lingkup Pilkada “Sayangnya yang diraih melalui pilkada adalah kekuasaan satu dua orang yang bahkan partai pengusung atau para pendukungnya sekalipun tak bisa memaksakan minta kebijakan ini itu jika si paslon sudah dilantik”. Kata Veri Kepada Media di Jakarta, Jumat 24/2.

Lanjut Veri, ada ratusan pilkada di Indonesia, bahkan juga sudah di gelar ribuan kali, kenapa jadi begitu amat menguras diri, saat menghadapi pilkada DKI. “ Pilkada itu hanya upacara, selebrasi demokrasi, bukan ajang perang ideologi apalagi Agama”. Tegasnya.

“Banyak yang akan menyanggah argumen saya ini, hanya silakan buktikan nanti. Apakah setelah terpilih dan dilantik, apa yang Anda perjuangkan menyangkut nilai-nilai suci itu bisa jadi kebijakan pemerintahan yang dipimpin paslon yang menang.” Tambahnya

Menurut Veri, setelah duduk di kursi kekuasaan, paslon akan sibuk sendiri-sendiri. Penuh ritual birokrasi, rapat sana-sini, tandatangan itu ini, boro-boro memperjuangkan kebenaran yang selama dianggap  memperjuangkan saat pemilihannya.

“Pilkada  merupakan ritual pemilihan kepala daerah, bisa diusung parpol bisa juga didukung warga langsung melalui jalur perseorangan. Kembalikan ke asalnya. Makanya jangan terus produksi isu-isu yang merugikan bangsa sendiri. Mari kembali. Pilkada tinggal sebulan lagi, akhiri menggoreng isu-isu yang akan merusak integrasi, menimbulkan saling benci, kita harus saling mencintai”. Tutupnya.