Palembang – Jagat pemberitaan di Sumatera Selatan hari-hari terkini dipenuhi dengan berita survei pilkada. Beberapa lembaga survei merilis hasil survei terkait dengan pemilihan kepala daerah Provinsi Sumatera Selatan pada Pilkada 2018 mendatang. Hasil survei ternyata berbeda-beda terutama dari sisi urutan elektabilitas. Dari beberapa nama yang muncul sebagai bakal calon gubernur, hanya empat nama yang muncul dan dipandang memiliki elektabilitas bagus.

Lembaga survei Poltracking Indonedia merilis survei yang dilakukan tanggal 12 sampai 17 Mei 2017, elektabilitas Herman Deru 23,85 persen disusul Syahrial Oesman 16,98 pesen kemudian Ishak Mekki 22,73 persen dan Dodi Reza Alex 10,86 persen.

Hasil survei lembaga Stratak Indonesia Research and Consulting yang dilakukan pada tanggal 2 sampai 10 Juni 2017, posisi empat nama itu berbeda. Syahrial Oesman berada di posisi tertinggi dengan raihan sebesar 20,7 persen. Kemudian Herman Deru 17,8 persen disusul Ishak Mekki 11,7 persen dan Dodi Reza Alex 8,8 persen. Stratakindo Research & Consulting mengklaim tingkat kepercayaan sebesar 95 persen dengan margin error 4 persen, adapun responden sebanyak 620 yang dipilih secara acak dengan metode multistage random sampling dan diwawancara langsung secara tatap muka.

Selanjutnya pada awal Agustus 2017 PolMark Research Centre (PRC) merilis hasil survei dengan Herman Deru 34,2 persen, Dodi Reza Alex 12,9 persen disusul Syahrial Oesman 11,9  persen kemudian Ishak Mekki 6,4 persen. PolMark melakukan survei terhadap 1200 responden dengan metode multistage random dengsn kepercayaan mencapai 95% dan margin error sekitar 2,9%.

Selanjutnya survei lembaga Indikator Politik Indonesia, Herman Deru masih memiliki elektabilitas tertinggi, 17,4 persen terpaut tipis dengan Ishak Mekki diangka 17,2 persen. Baru berikutnya Dodi Reza Alex sebesar 15,3 persen disusul Syahrial Oesman 11,8 persen. Survei yang dilakukan Indikator Politik Indonesia dilakukan pertengahan Agustus 2017, dengan melibatkan 820 responden yang tersebar secara proporsional di seluruh kabupaten dan kota di Sumsel. Margin of error pada survei ini +/- 3,5 persen pada kepercayaan 95 persen. Pengambilan data dengan menggunakan multistage random sampling.

Saat dikonfirmasi mengenai hasil survei lembaganya, direktur lembaga survei Stratakindo Octarina Soebardjo menyatakan lembaganya memang melakukan tracking survei yakni survei berkala yang dilakukan setiap tiga bulan, Octarina juga menjelaskan kalau kini tim survei lembaganya juga sedang melakukan wawancara di lapangan dan akan segera diketahui hasilnya minggu kedua bulan ini. Octarina enggan menanggapi berbedanya hasil survei tiap lembaga, namun ia menyatakan bahwa secara ilmiah jika survei dilaksanakan dalam kurun waktu yang sama, hasil temuannya tidak akan jauh berbeda,

“Bedanya akan berada dalam rentang margin of error, kalau jauh dari itu dipastikan ada yang error. Itu jika tanggal pelaksanaan wawancara di lapangannya sama, kalau beda waktu, mungkin saja ada perkembangan baru di bawah,” pungkasnya.

Sementara pengamat pilkada Agusta Surya Buana menilai hasil survei hanyalah alat pendeteksi. Menurutnya survei adalah termometer politik, bukan hasil politik. Ada banyak sekali bukti betapa hasil survei berbeda jauh dengan hasil pemungutan suara. Bahkan beberapa lembaga yang merilis survei pilkada Sumsel sekarang ini juga pernah tersandung kasus, dimana hasil surveinya yang memprediksi Ahok akan menang hasilnya justru Ahok tumbang.

Agusta mengakui pihaknya memegang data survei dari 9 lembaga survei dan semua hasilnya beda-beda, namun ada kesamaan pola yaitu ada empat nama yang mendominasi di tiap survei mereka adalah Syahrial Oesman, Ishak Mekki, Dodi Reza Alex dan Herman Deru.

“Empat tokoh itu yang popularitas dan elektabilitasnya bergantian atau berdekatan. Waktu penentuan untuk mengusung calon masih 5 bulan lagi, jadi sangat terbuka peluang bagi keempatnya untuk diusung dan bertarung.  Namun peluang bakal calon yang menjabat ketua partai akan jauh lebih tinggi untuk diusung,” tutupnya. **(Fied)