Jakarta – Jelang tanggal 30 September, publik dihebohkan dengan isu Partai Komunis Indonesia (PKI) di berbagai media sosial. Bagi sebagian orang mungkin isu ini telah dianggap basi, karena beberapa kali diulang dalam konteks tertentu. Akan tetapi, mengapa isu dan mobilisasi anti-Komunisme muncul dan berkembang hingga sekarang.

Menaggapi hal tersebut, pengamat politik sekaligus Direktur Lembaga Konsep Indonesia Research & Consulting, Veri Muhlis Arifuzzaman mengatakan, Sebenarnya kita sebagai masyarakat yang akrab dengan sosial media, bisa mengambil hal positif dari munculnya isu komunisme akhir-akhir ini.  “Tentu penting untuk diketahui bahwa phobia atas bangkitnya PKI adalah berlebihan. Sebagai ideologi, komunisme sudah renta bahkan meninggal di beberapa negara,” ujar Veri, saat dihubungi awak media, Senin (25/9).

Namun, lanjut Veri, untuk mengisi ruang dengan membangun kesadaran historis betapa negara ini harus kita jaga keutuhannya adalah penting. “Pemberontakan PKI mengingatkan kita bahwa persatuan dan kesatuan adalah utama, Pancasila adalah dasar negara yang cocok untuk menjadi landasan hidup kita bersama,” jelasnya.

Jika komunisme sudah ditinggalkan, imbuh Veri, maka seharusnya juga pandangan radikal, garis keras, merasa benar sendiri dan memaksakan kehendak untuk ikut pemahaman kelompoknya sendiri harus ditinggalkan. “Sudahlah, ini negara bersama, milik bersama, jangan saling mendorong ke jurang!.” tegas Veri.

Senada dengan hal itu, sebagaimana dikutip dari media OKEZONE, Rais Syuriah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI-NU) Australia, Nadirsyah Hosen juga mengatakan, paham komunisme dianggap sudah kehilangan panggung. Oleh sebab itu aneh jika Partai Komunis Indonesia (PKI) dianggap masih hidup dan gentayangan di Indonesia.

Menurutnya, Era perang dingin antara Komunis Uni Soviet dengan Kapitalis Amerika telah berakhir. “Tembok Berlin sudah runtuh. Uni Soviet sudah bubar,” kata Nadirsyah di akun Twitternya @na_dirs.

Saat ini, lanjut Nadirsyah, kekuatan komunis direpresentasikan oleh Cina. Itu pun tidak se-ekstrem Korea Utara. Cina lebih pada ekspansi ekonomi, bukan militer. “Isu PKI mengarah kepada PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) yang merupakan anak kandung PNI (Partai Nasionalis Indonesia) Soekarno. Menangnya PDIP sama dengan bangkitnya PKI. Absurd, tapi ini yang di-hoax-kan,” terangnya.

Karena saat ini, lanjut Nadirsyah, pemerintahan Jokowi terus dibenturkan dengan serangkaian isu. “Pemerintah Jokowi diserang dengan tiga isu sekaligus: Anti Islam, anti demokrasi dan pendukung PKI. Ketiganya secara sistematis terus dimainkan,” pungkasnya. – (NF)