Indopolitika.com – Salah satu isu yang disorot dari pasangan capres dan cawapres pada pemilu 2014 adalah pandangannya terhadap asing. Ini penting mengingat dalam kancah internasional politik global demi kepentingan nasional sangat vital bagi negara.

Pengamat Politik Internasional, Denny Sihabuddin, mengatakan, sikap dan pandangan capres sangat menentukan posisi dan nilia tawar negara. Dari sikap itu pula pola hubungan internasional yang akan terbentuk dapat terbaca. “Berhadapan dengan asing bukan soal pemimpin yang kelihatan gagah dan tegak. Tapi pada soal integritas, rasionalitas, kekuatan visi dan saling menghargai,” katanya ketika dihubungi di Jakarta, Rabu (28/5).

Menurutnya, jika hanya mengandalkan kekuatan citra fisik semata, maka sulit bagi Indonesia bersaing dengan negara-negara maju. Bahkan modal kekuatan bisa dengan mudah diperalat pihak asing. “Contohnya Soeharto. Sebagai presiden jelas sangat kuat. Tapi buktinya tetap didikte asing,” ujarnya.

Ia menyatakan, di era persaingan global, pihak asing cenderung mengedalikan negara dengan cara halus. Utamanya presiden yang punya vested interest dalam bisnis, pihak asing sangat mudah menancapkan kendali. “Di era sekarang, asing lebih menghormati presiden yang bervisi masa depan ketimbang yang kuat,” tegas Denny.

Ia melanjutkan, dari semua kandidat yang ada, sikap dan pandangan Jokowi-JK lebih berkarakter, terbuka namun tetap mengedepankan kepentingan nasional. Sikap ini, ucapnya, kontras dengan sikap Prabowo-Hatta yang terkesan keras, tanpa kompromi tapi berubah-ubah. “Itu kesan saya,” jelas Denny.

Meski di visi-misi kedua capres substansi agak sama, ia menunjuk pada beberapa sikap Prabowo yang awalnya keras dan kaku tapi kemudian berubah tiba-tiba. Misalnya, sikap Prabowo yang pada mulanya meledak-ledak kritik pemerintahan SBY tapi sekarang malah memuji. (ind)