Pengamat Politik dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) Philips J Vermonte menilai partai-partai yang tidak melakukan regenerasi akan tergilas di Pemilu 2019. Pasalnya, tokoh yang kini menguasai partai-partai tersebut sudah tidak laku lagi empat tahun yang akan datang.

Dikatakannya, jumlah pemilih muda pada Pemilu 2019 akan jauh lebih banyak dibanding 2014. Mereka diprediksi bakal kesulitan untuk mengasosiasikan diri dengan para tokoh tua yang kini bercokol di partai politik.

“Soal aklamasi dan regenerasi, kalau Prabowo terpilih lagi dan pasti terpilih lagi jadi ketua umum. Bu Mega juga seperti itu, akhirnya figur-figur partai yang tua-tua. Padahal penduduk Indonesia pemilihnya rata-rata berusia di bawah 40 tahun, jadi terbalik dengan partai,” kata Phillip dalam sebuah diskusi di Gedung DPR, Jakarta, Senin (12/1).

Hal ini disampaikannya melihat partai-partai seperti PDI Perjuangan, Gerindra dan Demokrat yang sangat tergantung pada figur sang ketua umum. Bahkan partai-partai ini kemungkinan bakal bermetamofosis menjadi partai keluarga. Maksudnya, setelah sang ketua lengser sekalipun anggota keluarganya lah yang akan menggantikan.

Phillip mengaku prihatin melihat kualitas demokrasi di internal partai politik saat ini. Menurutnya, kualitas demokrasi masyarakat justru jauh lebih baik dibandingkan partai.

“Kita tidak pernah mendiskusikan untuk mendorong demokratisasi dalam partai. Ini menjadi ironi ketika rakyat memilih langsung. Masyarakat mungkin jauh lebih dewasa ketimbang elite parpol,” jelasnya.

Solusinya, tambah Philips, partai politik ke depan harus memaksimalkan ideologi kepartainnya sebagai perekat. Sehingga dapat lepas dari ketergantungan terhadap figur dan berhasil melahirkan kader yang mampu memimpin.

“Bagaimana agar partai didorong demokratis, gimana kalau partai jadi punggung demokrasi tapi di internalnya tidak demokratis. Harus ada ruang-ruang demokrasi itu terjadi, ruang-ruang pencalonan ketua umum dibuka,” tutupnya. (jp/ind)