Rilis survei Indonesia Network Election Survey (INES) baru-baru ini yang menempatkan bakal calon Gubernur Kepri Soerya Respationo di posisi teratas disorot banyak pihak. Pasalnya, kredibiltas lembaga tersebut dinilai buruk sehingga hasilnya pun patut dipertanyakan.

Pengamat politik The Polical Literacy Institute Adi Prayitno mengatakan, rekam jejak INES bisa dilihat pada saat pemilihan presiden dan wakil presiden 2014 lalu. Waktu itu, survei INES selalu mengunggulkan Prabowo, bahkan jauh di atas Jokowi.

“Padahal mereka sebenarnya tak melakukan survei lapangan. Tiba-tiba muncul rilis survei. Cek saja pengakuan mantan direkturnya (Irwan Suhanto) saat itu,” katanya ketika dihubungi, Rabu (10/6).

Menurutnya, pengakuan mantan direktur INES itu seolah membuka kedok di balik setiap rilis survei yang mereka keluarkan. Akibatnya, data-data mereka sulit dipercaya karena sebelumnya pernah melakukan kebohongan.

Track record itu penting. Sekali terbongkar melakukan manipulasi data, maka secara moral dan etika ilmiah tak bisa dipercaya lagi,” tegasnya.

Karena itu, ia mengingatkan agar masyarakat hati-hati membaca hasil survei. Sebab, tak sedikit lembaga survei yang berani melakukan kebohongan dengan merilis hasilnya ke publik. Ini terutama terjadi dalam survei pendahuluan jauh sebelum memasuki masa kampanye.

“Jelang pemilukada serentak memang banyak rilis survei dari lembaga yang belum teruji kredibilitasnya. Mereka berani tampil karena pelaksanaan kampanye masih jauh. Jika ternyata nanti salah, alasannya akan macam-macam,” ungkapnya.

Dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini berharap, lembaga survei benar-benar bekerja secara objektif sesuai kode etik ilmiah. Dengan demikian, hasilnya dapat dipertanggungjawabkan dan informasi yang disebar dapat mendidik dan mencerdaskan masyarakat.

“Jika misalnya dibiayai oleh kandidat tertentu, maka sebaiknya tidak dipublis. Saya kira begini lebih fair,” tandasnya.

Sementara itu, peneliti sekaligus tenaga lapangan survei yang sering melakukan survei di Kepri Syafaraji mengemukakan, ada kejanggalan dalam rilis survei INES tersebut. Salah satunya, periode survei yang terlampau singkat dengan beban sampel 1.250 responden.

“Itu hanya dilakukan 10 hari. Padahal medan di Kepri cukup sulit, terdiri berbagai pulau yang jauh-jauh. Beda dengan di Jawa atau daerah lain,” katanya.

Hal lain yang membuatnya sedikit heran adalah jeda waktu dari pengambilan data dengan rilis yang disebarkan. Survei itu baru dirilis tanggal 6 Juni, Sabtu malam. “Nah, surveinya dari tanggal 27 April sampai 8 Mei lalu. Jadi ada jeda satu bulan. Padahal biasanya pengolahan data waktunya tak jauh beda dengan pengambilan data,” urainya.

Karenanya, ia tidak yakin data itu masih relevan untuk dikonsumsi publik. Sehingga, lanjutnya, tidak salah jika sebagian pihak mencurigai ada motif lain di balik rilis tersebut. “Bisa saja motifnya untuk memengaruhi partai politik agar didukung. Atau menggiring opini publik,” tandasnya.

Sebelumnya, Indonesia Network Election Survey (INES) mengeluarkan rilis survei pemilihan kepala daerah gubernur Provinsi Kepulauan Riau 2015. Hasilnya, dari beberapa figur yang akan maju, elektabilitas Soerya Respationo mencapai 31,3 persen, jauh unggul dibanding figur lain seperti Muhammad Sani 14,1 persen dan Ansar Ahmad 9,7 persen.

Survei melibatkan 1.250 responden dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Pihak INES mengaku bekerjasama dengan ANES (America Network Election Survei) dalam menyelenggarakan survei di seluruh Kepri. (mhl/ind)