Oleh: Veri Muhlis Ariefuzzaman (Direktur Konsepindo Reserach & Consulting)

Beberapa kali kami Konsep Indo mendampingi paslon pada Pilkada yang head to head, hanya ada dua pasangan calon. Salah satu yang fenomenal adalah saat Pilkada Provinsi Kepulauan Riau dimana gubernur petahana bertarung melawan wakil gubernur petahana. Saat itu paslon yang underdog bisa mengalahan paslon yang dominan. Dalam konteks sama-sama petahana, cek saja siapa yang dominan, menunda pilihan pada yang dominan artinya bisa digarap untuk memilih yang underdog.

Sebenarnya dengan membaca survei secara jernih, kita sudah bisa memprediksi arah suara pemilih, ingat survei itu alat deteksi, diagnosa, seperti ke laboratorium untuk periksa darah, setelah diobati penyakitnya, harus cek lagi, artinya harus survei berkala: tren dukungan khususnya arah dukungan swing voters harus dikaji secara jernih. Di Kepri, Kami melakukan 4 kali survei, di 3 survei berkala paslon yang kami dampingi selalu kalah, tetapi trennya dukungannya naik sementara dukungan ke lawan menurun. Di survei terakhir menjelang pencoblosan, posisi dukungan sudah menang tapi dalam margin error. Hasil akhirnya, menang.

Sejujurnya paling mudah membaca arah dukungan pemilih di pilkada yang head to head, itu karena arahnya hanya 3: ke kita, ke lawan atau tidak kesana sini, ujunganya tidak memilih. Dalam konteks petahana melawan penantang seperti di Banten kemarin juga sama mudahnya, cek saja siapa mendukung petahana siapa tidak, menunda pilihan pada petahana artinya tidak mau dipimpin lagi atau ragu atau menunggu program penantang.

Meneliti dan mengkaji arah dukungan swing voters dalam pertarungan petahana versus penantang yang head to head adalah kunci memenangkan pilkadanya. Di pilkada Banten misalnya, jika para peneliti mau kembali membuka hasil surveinya, akan terlihat peta dan tren dukungan pemilih, sederhananya dukungan ke Rano Karno tren-nya terus turun sebaliknya ke Wahidin HalimĀ  terus naik, hasil akhirnya sudah diketahui: Wahidin Halim menang tipis (jika memakai prosentasi) dan menang banyak (jika memakai selisih angka).

Adalah penting untuk mengukur tingkat pengenalan kandidat dan kesukaannya. Lebih bagus jika kesukaan dijabarkan kembali misalnya suka pada orangnya, suka pada kepemimpinan atau programnya. Di dunia ini, sudah biasa, menimpa pada siapa saja, ada orang kenal tapi tak suka. Jangan diremehkan. Ada rumus sederhana, dari 10 orang yang disurvei, berapa yang kenal Anda saja, berapa yang kenal lawan Anda saja, berapa yang mengenal keduanya. Berapa yang suka Anda, berapa yang tidak suka. Berapa yang suka sama lawan, berapa yang tidak suka. (Wah membahas ini bisa panjang, kita cukupkan sampai sini dulu).

Dalam pergaulan sehari-hari, kita tidak bisa menolak kenyataan ada saja yang tidak suka sama kita, kadang subjektif betul alasannya, menjengkelkan. Begitu juga dalam pilkada, ada saja pemilih yang gak suka sama calon, alasannya bisa banyak. Bisa karena ulah perbuatan kita yang ngawur, omong sembarang dan melukai hati; bisa karena dasar perbedaan agama, suku, ideologi partai, sejarah ideologi dan seterusnya. Nah karena pilkada adalah kontes, maka stressing pada bagaimana pintar-pintar mengambil hati pemilih adalah hal utama. Buatlah pemilih jatuh hati!

Bagaimana pemilih mau jatuh hati kalau omongan anda bikin mereka sakit hati. Bagaimana pemilih mau jatuh hati kalau perbuatan anda bikin mereka luka hati. Bagaimana pemilih mau jatuh hati kalau kehidupan anda, gaya hidup bikin mereka iri hati. Bagaimana pemilih mau jatuh hati kalau perbuatan anda bikin mereka gelap hati.

Intinya kalau lagi kontes itu jangan belagu: minta dipilih tapi sombong. Minta dipilih tapi petangtang petengteng! Model kaya begitu hanya akan membuat pemilih siap-siap menulis spanduk di hati mereka saat Anda kalah: “rasain luh!”

Pilkada Jakarta kini head to head, siapa yang bakal menang? Logika awam mengatakan kemarin paslon Ahok-Djarot menang. Apakah besok akan menang? Ini mudah menjawabnya.

Anggaplah pemilih putaran pertama solid. Artinya pemilih Ahok-Djarot bertahan memilih mereka, demikian juga pemilih Anis-Sandi, bertahan dengan pilihannya. Berarti sasarannya ada dua: pemilih AHY dan pemilih golput/tidak memilih.

Nah pemilih AHY dan yang golput itu karakternya sama dengan pemilih Anis-Sandi: sama-sama tidak suka dengan petahana. Itu rumus sederhana. Petahana gagal meyakinkan mereka, baik karena perbuatan pribadinya maupun hasil pekerjaannya, sehingga mereka memilih penantangnya atau tidak mau memilih. Kecenderungan pemilih penantang yang kalah di putaran pertama sudah bisa diprediksi yaitu tidak akan memilih (tidak berpartisipasi, golput dan sejenisnya) atau tumplek blek memilih penantang lainnya.

Jadi pilkada DKI secara teoritis sudah bisa diaproksimasi hasilnya, dan ini sesuai dengan survei-survei yang dipublis lembaga-lembaga survei belakangan ini. Sayangnya lembaga yang para pengurus lembaganya secara pribadi menunjukan dukungan pada Ahok-Djarot, tidak merilis ke publik hasil surveinya, padahal sangat getol merilisnya di putaran pertama.

Jadi, jika tak ada gerakan kecurangan terstruktur (dengan kekuasaan, kewenangan dan dana besar), sistematis dan massif, saya bisa mengatakan Anis-Sandi akan memenangkan pilkada DKI putaran kedua.