Palembang, Indopolitika.com — Pilkada Kota Palembang akan dilaksanakan serentak pada bulan Juni tahun 2018. Pemilihan orang nomor satu di kota Palembang ini menarik diungkap ke publik karena geliatnya yang belum terlalu ramai. Hal ini terjadi kemungkinan karena para bakal calon masih menimbang dan mengitung peluang, apakah akan menang atau tumbang.

Secara umum saat ini sudah beredar paling tidak sepuluh nama yang dianggap akan turun dalam arena. Diantara mereka disebut pasangan petahana, juga para peserta pilkada yang lalu seperti Sarimuda dan Mularis Djahri.

Terkait Sarimuda yang tidak pernah jengah dan kapok turun dalam pilkada Kota Palembang, pengamat politik Veri Muhlis Arifuzzaman dari kantor Konsultan Politik dan Lembaga Survei Konsepindo Reseacrh & Consulting menilai sebagai hal yang wajar.

“Bagaimanapun di pilkada lalu, Kota Palembang ini ada kontroversi. Ada kecurangan di MK dan pelakunya sudah dihukum. Ini fakta yang tak bisa dipungkiri. Artinya para peserta lama seperti Sarimuda dan Mularis punya peluang menang jika ikut lagi menambang di Pilkada sekarang,” jelasnya.

Akan halnya pasangan petahana yang juga ikut turun kembali ke medan laga, Veri menilai kekuatannya bisa ditakar. Menurutnya peta kekuatan di Pilkada Kota Palembang ini berimbang, tak ada yang dominan.

“Petahana tentu diuntungkan karena sedang berkuasa, tetapi kesan bahwa mereka menang dengan ‘curang’ itu tak lekang di benak orang Palembang. Ini PR terbesar mereka,” ujarnya.

Sementara saat diminta tanggapan mengenai kemungkinan Sarimuda untuk menang di pilkada sekarang, Veri mengatakan lumayan harus berjuang. Ada semacam stigma melekat padanya yakni kekalahan secara beruntun. Dalam dunia pilkada, orang model begini sering disebut pecundang.

“Dalam pilkada, pecundang adalah figur yang yang berkali-kali ikut kontes, memanfaatkan kesempatan, mencoba peruntungan namun terus gagal. Kegagalan demi kegagalan itu pada akhirnya menjadi hobi atau semacam identitas bagi dirinya. Pecundang¬† akan terus ikut pilkada bahkan bisa beralih tempat, terus ikut serta, terus gagal. Itu karena tak ada upaya mengukur kekuatan diri, tak ada upaya serius dan bersungguh-sungguh dalam proyek pemenangannya, tak ada inovasi, tak ada strategi dan taktik yang jitu dan terbarukan serta berorientasi pada hasil,” ungkapnya.

Veri menegaskan bisa saja Sarimuda juga disebut petarung, tergantung sudut pandangnya. Para petarung menurutnya adalah figur yang maju untuk memang untuk menang bukan untuk nyaris menang atau hampir menang.

“Jangan maju jika tak akan menang kecuali target sedari awal sudah dirumuskan sebagai debutan: menang syukur, gak menang tak apa tapi investasi politik sudah ditanam. Petarung biasanya akan serta di pilkada di lokasi yang sama maksimal 2 kali. Yang pertama untuk test the water, syukur kalau memang dan yang kedua untuk menang. Bagaimana bisa menang, mereka memakai steategi dan taktik yang terukur,” ujarnya.

Saat ditanya mengenai peluang Mularis Djahri, Veri mengungkapkan ini kesempatannya untuk menang.

“Pilkada yang lalu sudah cukup memberi lesson learned baginya, ya sekarang ada kesempatan untuk menang. Syarat memangkan pilkada itu sederhana kok. Figur manapun asal dia populer, disukai dan punya jaringan terstruktur dan taat komando di semua pelosok, akan memenangkan kontestasi dan terpilih jadi kepala daerah,” tutupnya. (ind)