Purwakarta – Tidak ada yang menduga jika pada akhirnya pilkada Purwakarta akan mempertarungkan figur-figur yang satu sama lain saling kenal. Istri Bupati bertarung melawan Sekretarias Daerah (Sekda). Lebih heboh lagi, wakil bupati petahana justru tidak ikut dalam perhelatan. Anomali model begini menjadi unik. Satu sisi dipandang sebagai hasil dari proses yang gagal, dimana sebelumnya ada setting diam-diam mau buat calon tunggal. Di sisi lain dipandang sebagai buah dari kekecewaan orang-orang dekat bupati, sehingga memutuskan secara bulat untuk berhadapan.

Adalah umum, jika bupati sudah berkuasa satu dasawarsa akan mengkader wakil jadi penggantinya, atau mempersiapkan birokrat paling senior, tentu saja dalam hal ini sekda, untuk hal yang sama. Isu yang beredar di publik, pada awalnya wakil bupati menjabat akan dipasangan dengan sekda untuk maju meneruskan misi Purwakarta Istimewa. Lalu isu lain yang muncul, ada kemungkinan sekda dipasangkan dengan istri bupati. Pada awalnya semua menduga istri bupati tidak akan turun dalam pilkada mengingat bupati sendiri akan konsentrasi maju di Pilgub Jabar. Namun demikian yang terjadi justru mengejutkan. Istri bupati maju dan memilih pengusaha daerah menjadi pendampingnya dan wakil bupati serta sekda ditinggalkan. Hampir saja semua partai diborong jika tidak karena “hukum keterpaksaan melawan” berlaku.

Pengamat politik dari Stratakindo Research and Consulting Octarina Soebardjo menyatakan “Hukum  Keterpaksaan Melawan” adalah keadaan dimana orang atau partai politik merasa diabaikan dan akhirnya melakukan perlawanan, pada beberapa kasus yang melawan ini justru menang. Tidak sedikit kasus dimana mereka yang tak diperhitungkan atau underdog bisa mengalahkan yang dominan. “Dalam kasus majunya Padil Karsoma melawan istri Bupati, hukum itu tampaknya berlaku. Mungkin saja akan ada yang bingung, kok bisa sekda melawan istri Bupati dan maju dalam pemilihan kepala daerah. Apakah hanya jadi boneka untuk penghias demokrasi atau sebaliknya justru jadi penantang dan menang?” demikian ungkap Direktur Stratakindo, sebuah lembaga survei dan advisor politik di Jakarta kepada media saat berlangsung paparan hasil FGD “Persepsi Publik Atas Dinasti Politik Pada Pilkada Serentak 2018” di Jakarta, Jum’at, 19 Januari 2018.

Octarina yang memaparkan kasus-kasus dinasti politik dalam pilkada serentak 2018 menjelaskan keunikan kasus di Purwakarta. Menurutnya hanya di daerah inilah suami istri sama-sama maju di pilkada. Suaminya maju di pilkada provinsi, istrinya maju di pilkada kabupaten. Peserta FGD menilai negatif kasus ini karena melanggengkan dinasti politik, namun saat yang sama mereka juga mengaku heran. “Bagaimanapun pilkada Jawa Barat dengan pemilih 32,8 juta pasti perlu cost politik yang tidak sedikit, ini maju dua-duanya, suami istri, luar biasa ambisinya,” jelas Octarina.

Walau belum diputuskan siapa saja pasangan calon yang lolos jadi peserta pilkada, publik Purwakarta menduga ada dua bakal paslon akan lolos. Yang pertama adalah pasangan Padil Karsoma – Acep Maman dan kedua adalah istri Dedi Mulyadi dan pasangannya. Paslon dari jalur perseorangan masih diragukan, apakah akan mampu melengkapi persyaratan atau tidak. Terkait isu bahwa Padil Karsoma adalah calon boneka sudah terbantah dengan pernyataannya di hadapan para ajengan yang datang ke kediamannya di Plered, kamis, 18 Januari 2018. Ia menyatakan maju ke pilkada Lillahi Ta’ala. Dirinya lama bekerja sebagai birokrat sampai menjabat sekda lalu kini mengajukan pensiun dini dan memutuskan ikut kontestasi ini untuk membangun Purwakarta agar maju dan sejahtera. Apa yang bagus-bagus yang sudah dicapai selama ini, dan saya terlibat di dalamnya, kita akan teruskan dan tingkatkan kualitasnya. Sementara yang belum bagus, yang jelek, dan saya tahu dimana yang belum bagus itu, kita perbaiki. Saya ingin tegaskan, saya dan Pak Acep Maman bukan pasangan boneka, kami serius dan berjuang untuk menang. Semua kami lakukan untuk kemajuan daerah kita,” ujarnya.

Padil Karsoma dikenal sebagai sosok yang ramah dan santun. Pengalamannya sebagai birokrat senior dan kemampuan memimpin aparatur negara akan menjadi poin positif tersendiri. Padil juga dikenal memiliki kekuatan finansial yang mumpuni. Kedekatannya dengan kalangan santri dan ulama serta sikap hidupnya yang nyantri, murah hati dan suka memberi membuatnya disukai banyak orang. Kelebihan-kelebihan itu akan menjadi modal politik yang baik untuk menunjang kemenangannya. (Fied)