Palembang – Nama dan photo Syahrial Oesman kembali terpampang di banyak tempat di Sumatera Selatan, Gubernur periode 2003-2008 ini rupanya terketuk hati untuk kembali turun ke gelanggang, ia mau ikut dalam kontestasi pilkada Sumsel 2018. Ketua Partai Nasdem Provinsi Sumatera Selatan ini banyak bercerita soal rencana kerja dan keinginannya mewujudkan Sumatera Selatan yang jaya sebagaimana terpampang dalam berbagai media kampanyenya. Wawancara kami dengan penerima Bintang Mahaputra Utama Tahun 2007 ini, kami tuangkan sebagai berikut.

Anda kembali turun ke gelanggang ikut serta dalam kontes, apa latar belakangnya?

Saya mencintai daerah saya. Saya lahir, tumbuh, berkembang dan mengabdi di provinsi ini. Tidak ada alasan untuk tidak ikut dalam pilkada Sumsel 2018 ini jika kesempatannya memungkinkan. Itu panggilan hati, saya merasa di sisa hidup saya, masih banyak yang bisa saya baktikan untuk negara ini, khususnya untuk Sumsel. Saya pernah jadi bupati juga gubernur di sini. Mungkin sayalah satu-satunya kontestan yang punya pengalaman sebagai gubernur. Atas dasar itu, saya kira secara pengalaman, kemampuan dan senioritas, saya bisa melanjutkan kepemimpinan gubernur Alex Noerdin. Beliau melanjutkan yang baik-baik yang saya kerjakan saat menjabat gubernur sembilan tahun silam, sekarang saya kira, tepat jika saya kembali melanjutkan kerja suksesnya.

Apa persiapan Anda untuk memenangkan kontestasi ini?

Tidak ada yang khusus, mengalir biasa saja. Tadi saya katakan, saya ini pernah menjabat sebagai bupati dan kemudian gubernur, apa iya rakyat lupa sama saya. Tidak ada sosialisasi khusus untuk mengenalkan diri seperti para bakal calon gubernur yang baru, saya hanya perlu memberitahu dan meyakinkan rakyat Sumsel bahwa saya mau maju dan saya sudah katakan itu tanpa ragu-ragu.

Bagaimana dengan partai pengusung? Anda hanya punya modal 5 kursi di DPRD sementara ambang batas pencalonan adalah 15 kursi?

Ya, saya adalah ketua Partai Nasdem Sumatera Selatan. Kami sudah membuka penjaringan bakal calon, itu artinya secara politis Nasdem terbuka menerima calon lain. Di kami, syarat rukun pengusungan calon sudah amat jelas dan mentradisi. Calon yang punya peluang unggul dan visi misinya sejalan dengan partai akan diusung. Alhamdulillah dalam berbagai survei yang dilaksanakan oleh lembaga-lembaga survei kredibel, nama saya masuk di papan atas baik secara popularitas, akseptabilitas maupun elektabilitas. Tentu Nasdem tidak bisa mengusung calon sendirian, harus koalisi. Dengan saya mendaftar ke berbagai partai lain, itu pertanda bahwa saya siap berkoalisi dengan siapapun khususnya dengan partai-partai dimana saya mendaftar.

Berapa elektabilitas Anda sekarang?

Alhamdulillah, lumayan tinggi, ada di kisaran 20 persenan. Itu elektabilitas, kalau popularitas sudah di atas 80 persen, ini wajarlah bagaimanapun saya ini Gubernur periode 2003-2008, itu belum lama. Rakyat masih mengenal saya. Soal elektabilitas ini saya meyakini tren-nya akan menaik, ini karena saya dan tim tidak diam, kami terus bergerak. Sosialisasi dan tatap muka serta rutinitas menerima kedatangan para pendukung dari berbagai pelosok terus berlangsung. Alhamdulillah saya sehat semoga demikian seterusnya, ini seperti sedang lomba marathon, harus kuat stamina dan konsisten.

Siapa lawan terberat Anda?

Saya kira belum ada lawan sekarang ini. Inikan masih penjaringan, ibarat balap mobil F1 itu namanya masih kualifikasi. Percuma juga sekarang ini jor-joran, habis-habisan, berkampanye secara dominan dan gelar berbagai event besar tapi ternyata tidak diusung partai politik. Kita ini sedang kontes, saya setuju istilah itu, biarlah partai politik memilih siapa yang terbaik untuk diusung dan diserahkan kepada rakyat untuk dipilih nantinya. Mekanisme politik ini sudah mapan dan kita ikuti saja.

Bagaimana pandangan Anda tentang Herman Deru, menurut klaimnya, dia unggul sekarang?

Beliau sahabat saya, kami sudah mengenal cukup lama. Dia tokoh yang baik dan layak untuk mencalonkan diri. Biarlah rakyat yang memilih, siapa diantara kami yang terbaik menurut mereka. Kalau soal klaim elektabilitasnya unggul ya tidak apa-apa, namanya klaim, kita harus saling menghormati. Begini, sekarang ini kan dunia sudah maju, metode dan teknik pengukuran dalam politik juga sudah semakin mutakhir. Dulu dukun masih dipakai untuk memprediksi kemenangan, sekarang sudah beda. Dulu mana ada kampanye melalui facebook dan instagram atau twitter, sekarang kan itu dipakai. Sama juga dengan survei, kapan disurvei, metodenya bagaimana, lembaganya apa, kredibiltas lembaga surveinya bagaimana, ini menjadi pertimbangan. Saya belajar betul dari Pilkada DKI kemarin, coba Anda buka arsip berita survei DKI itu, banyak bukan lembaga yang kecele, memprediksi Pak Ahok akan menang, tahunya kalah. Artinya buat saya adalah penting untuk menempatkan metode ilmiah yang bisa dipercaya dalam mengukur elektabilitas dan sejenisnya.

Bagaimana sikap Anda jika Dodi Reza Alex, putera gubernur petahana ikut dalam kontestasi?

Iya tidak apa-apa. Itu hak politiknya. Undang-undang menjamin warga negara untuk dipilih dan memilih. Tentu saya sependapat dengan banyak komentar yang sampai ke saya, apa tidak sebaiknya Adinda Dodi ini teruskan amanah di Muba, kan baru saja dilantik, setahun saja belum. Menyusun APBD sendiri saja mungkin belum. Ini kan soal janji kampanye dan soal etika. Tapi secara politis dan yuridis kan tidak masalah dan saya kira tidak menjadi persoalan, mungkin malah kontestasi semakin menarik.

Jika Anda lolos diusung partai politik, dengan siapa kira-kira akan berpasangan?

Pertama harus ditekankan di sini bahwa saya maju untuk bakal calon gubernur. Mantan gubernur memang tidak boleh mencalonkan diri jadi wakil gubernur. Kedua, melihat nama-nama yang muncul dalam pra-pengusungan calon, rasanya saya cukup mengenal baik. Contohnya dengan Pak Ishak Mekki saya bisa bekerjasama, dengan Pak Aswari Riva’i bisa bekerjasama juga dengan yang lain. Bahkan jika harus berpasangan dengan putera-puteri Pak Alex Noerdin, saya pun bisa bekerjasama dan bahkan bisa membimbing. Saya ini kan pasti hanya satu periode saja, siapapun wakil saya akan punya peluang menjadi gubernur di periode berikutnya. Beri saya kesempatan satu periode ini memimpin, kita lanjutkan Sumsel Gemilang, kita buat Sumsel Jaya.

Apa yang Anda maksud dengan Sumsel Jaya?

Jaya bermakna selalu berhasil; sukses; hebat. Keadaan yang mapan dan menguntungkan, baik dalam segi materi maupun jiwa, di sebuat Kejayaan. Sumsel yang Jaya adalah Sumsel yang berhasil mencapai tahap-tahap pembangunan yang digariskan. Tidak bisa lagi keberhasilan hanya dinikmati atau dirasakan segelintir wilayah dan atau segilintir orang. Gerak langkah menuju Sumsel Jaya harus dibarengi niat bahwa kita tidak sendirian, wilayah Sumsel tidak hanya melulu satu dua kabupaten kota dan atau etnis saja melainkan semua wilayah tanpa terkecuali. Percuma jika satu wilayah dianggap berhasil tetapi wilayah lain justru stag atau dianggap mundur. Jadi Sumsel JAYA adalah tagline yang menggambarkan keberhasilan, kesuksesan, kehebatan, Kemenangan menuju tujuan yang dirumuskan bersama. Secara sederhana SUMSEL JAYA dapat dirangkum dalam kalimat: terlaksananya program pembangunan di semua wilayah dan tercapainya tujuan pembangunan itu sesuai dengan situasi dan kondisi awal di area dan bidangnya yang dapat dipastikan memberikan kontribusi bagi tercapainya kesejahteraan rakyat Sumsel secara menyeluruh.

Apa saja program unggulan Anda?

Prioritas utama saya adalah membangun dan atau meningkatkan infrastruktur jalan dan jembatan. Ini semua penting agar transportasi, produksi dan konsumsi lancar sampai ke pelosok perdesaan. Saat saya menjabat gubernur, hal yang sama saya lakukan. Memang harus ada terobosan melalui supervisi dan koordinasi dengan para bupati dan walikota yang ada agar terwujud kekompakan dan kebersamaan program perbaikan jalan ini. Interkoneksi antar wilayah dalam provinsi ini amat penting.

Saya juga akan maksimal mengerjakan pembukaan ruas-ruas jalan. Contohnya jalan Mangujaya Muba, Nibung, Muararupit di Kabupaten Muratara. Semua itu untuk menunjang percepatan pembangunan sektor-sektor penting lain seperti pembukaan potensi pariwisata, pertanian, perkebunan rakyat dan lain sebagainya.

Dulu waktu saya gubernur, kita mengajukan provinsi Sumsel sebagai lumbung pangan dan energi nasional. Kita dukung dengan perda dan diresmikan oleh presiden saat itu. Sumsel ini kaya. Potensi mineral, batubara dan sumber daya alam lain berlimpah. Kita juga punya lahan luas, potensi pertanian dalam arti luas, pertanian padi, perkebunan karet, sawit, kopi coklat, tebu, kayu manis. Ada juga peternakan, perikanan baik sungai, danau maupun laut. Banyak, banyak yang bisa kita optimalkan.

*

Syahrial Oesman dikenal sebagai gubernur pelopor. Di bidang olahraga misalnya komplek olah raga internasional Jaka Baring pada awalnya diinisiasi dan dibangin Syahrial, termasuk klub sepakbola terkenal kebanggan Sumsel Sriwijaya FC, dibangun saat kepemimpinannya dsn memperoleh Double Winner pada tahun 2008.

Syahrial juga banyak mendapatkan penghargaan dan berprestasi dalam banyak bidang. Ia mendapat PWI Award tahun 2008 karena berprestasi memajukan daerah serta konsisten mengembangkan dialog keterbukaan kepada publik dan menghormati kemerdekaan pers ia juga mendapat Penghargaan Ketahanan Pangan Tingkat Nasional tahun 2002 dan tahun 2007. Di bidang pembinaan pemudaj ia mendapat Piagam Lencana Melati dan Pembina Karang Taruna 2005, jauh sebelumnya ia mendapat Satya Lencana Pembangunan Bidang Koperasi 1995. Puncaknya ia mendapat Bintang Mahaputera Utama pada tahun 2007 yang memberinya hak untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan di seluruh Indonesia. (Fied/Red/Lipsus)