Direktur Populi Center Nico Harjanto memprediksi tingkat partisipasi pemilih pada pilkada 9 Desember mendatang rendah. Beberapa faktor yang berpotensi memengaruhi keengganan pemilih untuk datang ke tempat pemungutan suara (TPS) adalah kejenuhan publik ikut berpartisipasi dalam perhelatan demokrasi.

“Saya kira pada titik tertentu masyarakat juga akan mengalami kejenuhan. Karena pilkada berlangsung dalam periode lebih panjang dan proses kampanyenya tidak semeriah dari sebelumnya,” ujar Nico dalam sebuah diskusi “Pilkada Serentak Antiklimaks?” di Jakarta, Sabtu 5 Desember 2015.

Menurut dia, faktor terbatasnya pilihan-pilihan calon yang bisa diusung dalam pilkada juga memengaruhi keinginan pemilih untuk ikut dalam pilkada. Apalagi rata-rata di 269 daerah yang menyelenggarakan pilkada jumlah pasangan calon tidak lebih dari 3 pasang.

“Memang di beberapa daerah ada yang sampai 6-7 calon, tapi rata-rata pasangan calon hanya 2-3 pasang. Artinya pilihan itu terbatas, kalau sudah begitu biasanya polarisasi dimasyarakat juga semakin jelas,” paparnya.

Nico juga menyebut, kegaduhan politik di tingkat nasional bisa turut menyumbang keinginan publik memberikan hak suaranya. Khususnya pemilih pemula dan pemilih mengambang yang belum banyak informasi maupun pengalaman ikut dalam pilkada.

“Kalau pertarungan politik di bawah semakin keras, mereka justru tidak mau memberikan hak politiknya. Mereka takut nanti dianggap sebagai pemihak kelompok tertentu,” tambahnya. (sn/ind)