Indopolitika.com   Pilpres 2014 ini menghadirkan satu fenomena positif bagi demokrasi yaitu tumbuhnya partisipasi publik. Ini terutama sekali terlihat pada kubu Jokowi-JK.

Pengamat politik, Pusat Kajian dan Study Politik Nusantata, Yeny Sumiati Sudirman, pemilih tergerak jadi relawan dengan kesadaran sendiri, termasuk memberi kontribusi dengan caranya masing-masing. Melalui karya, melalui aktivitas dan juga menyawer dana. “Fenomena Jokowi telah melahirkan kesadaran partisipasi politik masyarakat, dari mulai kreatifitas sampai pada nyumbang duit,” ujar Yeny.

Pemilih yang berhimpun dalam berbagai komunitas relawan ini mengembangkan pesan-pesan dan aktivitas secara mandiri.

Menurut Kordinator Relawan Aku Cinta Jokowi (ACJ) wilayah Jawa Barat, Asep Lukman Hakim,  bagi relawan, kompetisi dengan Prabowo-Hatta bukan sekadar untuk memenangkan Jokowi-JK. Tapi juga dan terutama untuk menangkan ide-ide dan harapan mereka sendiri. “Membantu Jokowi berarti memperjuangkan ide dan gagasan rakyat,” ujar Asep saat dihubungi (22/6)

Dalam hal ini, lanjut Asep, Prabowo-Hatta dilihat sebagai sebuah ‘ancaman’ terhadap kebebasan. Keengganan untuk kembali hidup dalam ‘kejayaan masa lalu’ yang menjadi obsesi Prabowo. “Ya lawan prabowo karena kita gak mau hidup kembali ke masa lalu,” tegas Asep.

Asep mengklaim, relawan ACJ terdiri dari berbagai kelompok, komunitas pun individu yang beragam latar belakang dan kepentingan. Mereka tersatukan pada kekhawatiran yang sama Prabowo-Hatta mengembalikan rezim orde baru.

Asep juga meyakini bahwa semua relawan tidak hanya semangat melawan kekuatan orde baru tapi, terutama juga terdorong untuk membuka lembaran baru dalam perpolitikan Indonesia. Jokowi-JK menghadirkan sisi kegembiraan dalam berpolitik. “Jokowi mengajak berpolitik sambil bergembira, ini hal baru,” kata Asep. (Ind)