Jakarta – Tahapan pemilihan presiden 2019 sudah akan dimulai tahun depan. Adapun penetapan calon presiden dan calon wakil presiden dimulai pada September 2018. Centre for Strategic and International Studies (CSIS) melakukan jajak pendapat terkait elektabilitas Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto yang diperkirakan akan kembali bertarung di Pemilihan Presiden 2019.

Dalam survey tersebut, didapatkan hasil elektabilitas Jokowi terus meningkat sejak 2015.
Pada 2015 tingkat elektabilitas Jokowi sebesar 36,1 persen. Setahun kemudian elektabilitasnya meningkat menjadi 41,9 persen dan pada 2017 ini menjadi 50,9 persen.

Adapun elektabilitas Prabowo Subianto yang diprediksi akan kembali maju dalam pencalonan presiden tercatat stagnan. Pada 2015 CSIS mencatat tingkat elektabilitas Ketua Umum Partai Gerindra itu mencapai 28 persen. Setahun kemudian menurun menjadi 24,3 persen dan pada 2017 mencapai 25 persen.

Direktur CSIS Philip J. Vermonte menilai Jokowi perlu memperkuat elektabilitasnya di atas 60 persen. “Untuk seorang petahana lebih aman jika angkanya mencapai 60-70 persen,” ucap Philip di Gedung Pakarti Centre, Jakarta, Selasa, 12 September 2017.

Kepercayaan publik pada Jokowi saat ini dapat dijadikan modal dalam meningkatkan elektabilitas di sisa waktu pemerintahannya.

Jokowi di depan pendukungnya organisasi massa Projo (Pro Jokowi) mengatakan tahun depan adalah tahun politik. Ia pun meminta para menterinya untuk tak kampanye. “Yang kampanye itu bagiannya Projo,” kata Jokowi di depan relawan Projo, di Jakarta Utara Senin 4 September 2017 lalu.

Survey yang dilakukan CSIS di atas dilakukan terhadap 1.000 Warga Negara Indonesia berusia 17 tahun ke atas yang tersebar di 34 provinsi.

Margin of error dalam survei ini sekitar 3,1 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Pengumpulan data dilakukan pada 23-30 Agustus 2017 melalui wawancara langsung. (Fied/Rillis)