Oleh: Sondri DT Kayo (Pemerhati Sosial dan Politik)

Tahun 2014 ini merupakan bagian dari momentum penting perjalanan demokrasi di Indonesia. Selesai melaksanakan pemilu legislatif, kini bangsa Indonesia juga sudah menyelesaikan satu tahapan pemilihan presiden yaitu pemungutan suara pada tanggal 9 Juli yang lalu. Banyak kalangan dan pengamat yang menyatakan, pemilihan presiden kali ini berbeda dengan beberapa pemilihan presiden sebelumnya, terutama pascareformasi 1998. Dari segi aturan dan mekanisme yang berlaku sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pemilihan presiden pada tahun 2009, namun yang menarik ditilik dan dikaji tentunya adalah konstelasi politik Indonesia yang terlihat begitu dinamis dengan dua kelompok besar pilihan. Di balik dinamika ini terselip kekhawatiran akan adanya efek emosional kepada masyarakat yang terlibat dalam dukung-mendukung.

Bila diamati dari sisi hingar bingar atau meriahnya kampanye dalam bentuk spanduk, baliho, iklan dan alat peraga lain, rasanya tidak semeriah pemilu legislatif yang telah lewat. Namun kalau kita amati dari pengaruh prikologisnya justru lebih berpengaruh besar terhadap seluruh elemen bangsa Indonesia. Tiba-tiba rakyat Indonesia terbagi dalam dua arus besar pilihan presiden. Barangkali ada berbagai faktor yang mempengaruhi penilaian terhadap dua pasang Capres dan Cawapres pada Pilpres 2014 ini. Penilaian ini tentu juga tidak terlepas dari mainstream yang berada di kepala ratusan juta rakyat Indonesia.

Perbedaan pilihan mesyarakat itu bahkan terjadi dalam kelompok-kelompok dan organisasi yang sudah mapan, sampai-sampai mereka yang berada dalam satu ormas dan partai politik. Pembicaraan, perdebatan dan bahkan ‘pertengkaran’ tidak hanya melibatkan elit politik, namun telah merembes kepada seluruh kalangan masyarakat. Anak-anak sekolah dan mahasiswa yang selama ini tidak terlalu peduli dengan peristiwa-peristiwa politik kini terlihat begitu bersemangat menyatakan dukungan mereka dan mengkritik pasangan Capres lainnya. Bahkan mereka seperti membela matian-matian pasangan Capres yang mereka dukung dan jagokan, bahkan bertengkar dengan kawan dan rekan sejawat sepertinya mereka lakukan. Ini menunjukkan pengaruh psikologis dan emosional Pilpres 2014 ini bahkan telah menembus rasionalitas dan merasuk ke alam bawah sadar.

Kuatnya pengaruh pemilihan presiden kali ini bisa jadi karena pengaruh kampanye yang dilancarkan oleh masing-masing pihak. Kampanye yang bahkan menyentuh pada elemen-elemen kesadaran sosial dan keagamaan masyarakat serta harapan terhadap kepemimpinan Indonesia ke depan. Di sisi lain bisa kita kaji hubungan dan pengaruh karakter dan sosok kedua pasangan calon presiden ini dengan mainstream yang berkembang dalam masyarakat Indonesia. Sebagai contoh, masyarakat yang memandang posisi Indonesia dalam kancah hubungan internasional dan regional seperti tak memiliki wibawa dan pengaruh tentunya berharap ada pemimpin yang memiliki tampilan ‘strong leadership’. Mainstream ini tentu mengingatkan memori rakyat Indonesia akan kepemimpinan Soekarno dan Soeharto yang dinilai memiliki posisi tawar yang kuat, berwibawa atau disegani dan memiliki peran penting dalam hubungan internasional dan regional.

Di sisi lain, masyarakat yang merasa kecewa dengan pemimpin yang terkesan elitis dan membangun kelompok elit cenderung mencari sosok kepemimpinan yang dipandang memiliki tampilan yang lebih dekat kepada rakyat. Demikian juga harapan terhadap pemimpin yang lebih banyak bekerja dan melayani rakyat ketimbang berbicara seperti yang dinilai terlalu banyak muncul belakangan ini. Pengaruh pilihan masyarakat ini tentu dilengkapi dengan berbagai rekam jejak dan isu-isu yang berkembang pada kedua pasang calon presiden dan wakil presiden.

Ekspresi Politik di Media Sosial

Permasalahan yang muncul dalam Pilpres 2014 ini yaitu adanya dampak ‘perang politik’ antar elit yang mempengaruhi masyarakat akibat peran media massa dan jejaring media sosial. Dinamika politik ini tak bisa dipungkiri lagi telah memerangkap sebagian media massa baik cetak atau elektoronik ke dalam dua kubu pilihan Capres-Cawapres, karena keterlibatan pemilik media dalam politik praktis. Eskploitasi media massa dalam tarik-menarik kepentingan kedua kubu makin mengaduk-aduk emosi masyarakat kita yang sesungguhnya tidak memahami betul apa yang terjadi di balik layar. Masyarakat kita saat ini rentan terpengaruh berbagai informasi dan publikasi yang disampaikan berbagai media massa yang kemudian juga diikuti penyebarluasan melalui media jejaring sosial.

Diskusi-diskusi dan perdebatan antara pendukung dan simpatisan serta antar anggota masyarakat terlihat memenuhi media sosial. Gejala ini sudah terlihat bahkan sebelum KPU menetapkan secara resmi calon presiden dan wakil presiden. Jejaring media sosial yang ada saat ini telah menjadi isntrumen baru komunikasi dan informasi dalam dunia politik. Kampanye-kampanye dalam upaya membangun pencitraan kontestan pemilu kini telah memasuki era baru yaitu era pemanfaatan dunia maya. Intensitas pemanfaatan dunia maya pada waktu belakangan ini kian menjadi-jadi karena dinilai cukup efektif dan bisa mendapatkan respon dan perhatian langsung jutaan orang.

Media sosial merupakan instrumen baru komunikasi di zaman kini dengan dimensi kecanggihan yang jauh melebih alat komunikasi seperti pada masa lalu. Melalui jejaring media sosial, komunikasi bisa melibatkan banyak orang tanpa berhadap-hadapan secara fisik. Namun di satu sisi juga menjadi tantangan bagi masyarakat Indonesia yang sebelumnya memiliki tata nilai tersendiri dalam komunikasi. Tata nilai yang terbangun berdasarkan kultur masyarakat Indonesia selama ini seperti terabaikan dalam komunikasi media sosial kini. Dapat kita lihat di halaman-halaman media sosial, tak dapat dibedakan lagi orangtua dan yang muda terlibat dalam pertengkaran. Begitu juga perdebatan terjadi antara orang-orang yang berbeda tingkat pengetahuan dan pendidikan serta pengalaman. Kadang-kadang pernyataan dan komentar sudah menggunakan kata-kata kasar dan tak memperhatikan azas kepatutan.

Kemampuan banyak orang mengolah dan merekayasa gambar, foto dan video serta ditambah munculnya sumber-sumber informasi yang tidak bertanggung jawab dan tidak berkompeten berpotensi mengadu domba, menghasut mempengaruhi keyakinan dan kepercayaan masyarakat. Menghadapi hal demikian, masyarakat perlu meningkatkan kemampuan menyaring informasi dan lebih hati-hati dalam menyikapi berbagai isu dan persoalan yang dikemukakan.

Keberadaan media sosial sebagai media komunikasi bebas hambatan telah menyatu dengan era kebebasan berpendapat dan berbicara. Setiap orang merasa berhak menyatakan sikap dan pendapatnya. Kondisi ini tentu perlu kita sikapi dengan bijak, jangan sampai kemajuan teknologi menghancurkan dengan cepat nilai-nilai kesantunan dan etika serta jalinan silaturahmi masyarakat kita yang sudah ada. Dalam komunikasi saat ini, terutama di tengah dinamika politik saat ini yang terjadi, keberadaan media sosial hendaknya menjadi jalan untuk lebih meningkatkan silaturahmi kebangsaan kita.

Demikian juga para elit dan aktor politik selayaknya tidak terlalu mengedepankan ambisi kekuasaan dengan mempolitisir situasi dan keadaan. Elit politik sebaiknya menahan diri untuk memelintir dan merekayasa berbagai fakta serta mempermainkan emosi dan psikologi masa melalui media massa dan media jejaring sosial yang ada. Persatuan dan kesatuan bangsa ini terlalu berharga untuk dipertaruhkan dalam perbedaan pilihan. Proses dan perjalanan bangsa dalam memperkuat kehidupan berdemokrasi, berbangsa dan bernegara yang sudah berangsur maju ini juga hal yang terlalu mahal untuk kita pertaruhkan. Demokrasi yang kita ingin tentulah demokrasi yang berkeadaban untuk mencapai rakyat yang sejahtera dan berkeadilan serta membebaskan dari segala ketakutan dan kecemasan. (*)