Pius Lustrilanang: BEROPOSISI SAMA TERHORMATNYA DENGAN MEMERINTAH


Indopolitika.comAnggota tim sukses pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, Pius Lustrilanang, mengomentari proses rekapitulasi suara pemilu presiden 2014 yang sudah selesai pada tingkat kabupaten. Menurut Pius, pemenang Pilpres sudah bisa diketahui publik.

Hal itu disampaikan Pius lewat akun Facebook-nya Pius Lustrilanang, yang diunggah pada Kamis (17/7/2014).

Pius mengaku mencoba menghitung data DB1 dari kabupaten/kota yang diunggah di situs KPU. Hasilnya, kata Pius, tidak jauh beda dengan hasil yang ditayangkan di situs www.kawalpemilu.org. Hasilnya, pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla unggul.

Berikut pernyataan Pius.

“BEROPOSISI SAMA TERHORMATNYA DENGAN MEMERINTAH

Dengan selesainya pleno rekapitulasi suara di tingkat kecamatan (15/7/2014) dan dimulainya rekapitulasi di tingkat Kabupaten sejak (16/7/2014), pemenang pilpres sudah diketahui publik. Saya mencoba menghitung data DB1 yang sudah di-upload di Website KPU, ternyata hasilnya tidak jauh beda dengan hasil yang ditayangkan di situs www.kawalpemilu.org.

Salam hormat saya buat siapapun yang sudah mendedikasikan dirinya buat mengawal pemilu sehingga berjalan jujur dan adil. Siapapun presidennya, yang menang adalah demokrasi yang telah kita pilih dan perjuangkan. Demokrasi adalah alat sekaligus tujuan. Keyakinan saya terhadap demokrasi tidak akan pernah berubah.

Saya berharap sistem demokrasi kita semakin matang. Semoga demokrasi bisa mendatangkan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia. Mari kita rajut lagi persatuan dan kesatuan bangsa. Semoga rakyat tidak perlu menyaksikan akrobat politik dagang sapi. Untuk harapan yang terakhir, saya agak pesimis.

Hormat selanjutnya saya berikan buat partai yang lapang dada menerima kekalahan dan siap beroposisi. Oposisi bagi mereka yang kalah, adalah sikap yang sama terhormatnya dengan kesiapan memerintah bagi yang menang. Apapun pilihan yang diambil akan menentukan peta politik Indonesia ke depan.

Semoga elit parpol bisa melihat kepentingan politik jangka panjang, bukan sekedar keinginan untuk berkuasa. Demokrasi memerlukan juga check and ballance. Ke depan, saya ramalkan hanya akan ada dua kekuatan politik besar: dua koalisi besar partai. Sebuah proses penyederhanaan parpol secara alamiah. (jjs/ind)

Next post KPK Periksa Rombongan Haji Gratis Suryadharma Ali

Previous post Dilaporkan Fadli Zon ke Mabes Polri, Burhanuddin Muhtadi: Lebih Baik Debat di Forum Diskusi

Related Posts