Indopolitika.com Pasangan nomor urut 1 Prabowo-Hatta dianggap berpotensi kesulitan menjalin kerja sama yang kompak jika nanti terpilih sebagai presiden dan wakil presiden.

Hal itu terlihat dari penampilan keduanya saat mengikuti acara Debat Capres dan Cawapres di Balai Sarbini, Jakarta, Senin (9/7). Saat itu, Prabowo cenderung abaikan Hatta. “Beberapa kali terlihat Pak Hatta nunggu, pengin ngomong. Tapi Pak Prabowo terus dominan,” kata pengamat komunikasi politik Lembag Studi dan Kajian Politik Nusantara, Fathurahman Sidiq kepada wartawan di Jakarta, Selasa (10/6).

Ia mencontohkan pada saat sesi kedua. Jawaban yang relatif sesuai dengan pertanyaan moderator hanyalah uraian Hatta. Hanya saja Prabowo sudah memborong waktu bicara sehingga jawaban Hatta tak sampai tuntas. “Sayang sekali. Padahal semua peserta debat kurang menjawab pertanyaan moderator. Pak Hatta sudah mengarah, tapi waktunya keburu habis,” tuturnya.

Indikasi lain, lanjutnya, Prabowo dalam berbicara selalu menggunakan kata “saya”. Penggunaan kata ini seolah tidak menganggap keberadaan Hatta Rajasa. “Padahal kan debatnya capres-cawapres. Harusnya kompak, kerja sama,” terang Fathurahman.

Pemandangan itu, katanya, sekaligus berbeda dengan penampilan pasangan nomor urut 2 Jokowi-JK. Menurutnya, pasangan ini saling mengisi dan saling melengkapi.

Pasangan ini juga terkesan kompak dengan menggunakan kata “kami”. “Ibarat bola, ini gaya taka-tiki, klop,” tegasnya. Oleh karena itu, ia khawatir jika nanti pasangan Prabowo-Hatta terpilih sebagai presiden, indikasi yang terlihat di debat terus berlanjut di pemerintahan. Keberadaan wakil presiden hanya diajadikan pajangan semata tanpa peran dan fungsi yang jelas. “Jangan sampai kayak wapres di masa Orde Baru,” tandasnya. (Ind)