Indopolitika.com – Pelaksanaan pemilu presiden (Pilpres) 2014 tinggal 35 hari lagi. Kubu masing-masing kandidat terus bergerak melakukan konsolidasi, menjaring kekuatan hingga akar rumput. Namun, sejauh ini terdapat perbedaan mencolok dari pergerakan kubu Prabowo-Hatta di satu sisi dan kubu Jokowi-JK di sisi lain.

Bila Jokowi-JK lebih fokus mendekati masyarakat kalangan bawah, Prabowo-Hatta dinilai terlalu fokus ke masyarakat kalangan menengah ke atas. Setidaknya, hal itu terpantau sejak penetapan pasangan capres-cawapres sampai sekarang.

“Jokowi-JK berupaya untuk membumi. Prabowo-Hatta cenderung show of force dengan merangkul dan mendekati kalangan elit,” kata pengamat Pusat Kajian Politik Islam dan Pancasila Yudha Firmansyah di Jakarta, Selasa (3/6).

Menurutnya, sejak awal pencapresan Jokowi sengaja dikesankan atas dasar kehendak dan kemauan masyarakat. Begitu pula terkait penetapan Jusuf Kalla sebagai cawapres yang seolah-olah merupakan tuntutan masyarakat.

“Gerakan Projo, terus gerakan Ayo Majukan Indonesia. Gerakan civil society saya lihat sudah sampai TPS. Belum lagi kunjungan Jokowi ke tokoh lokal,” urainya.

Apa yang terjadi pada Jokowi, kata dia, kontras dengan apa yang dilakukan Prabowo-Hatta. Bahkan, beberapa hari lalu pasangan ini masih sibuk mendekati Partai Demokrat yang sebenarnya sudah menyatakan diri bersikap netral.

“Memang berhasil. Mahfud MD merapat, Amin Rais juga, beberapa elit Demokrat akhirnya mendukung. Tapi itu tidak membumi sampai ke TPS,” jelasnya.

Ia menilai, meski Prabowo-Hatta didukung partai besar juga ditopang oleh kekuatan media lewat Aburizal Bakrie dan Harry Tanoe, tak ada jaminan untuk menang. Pasalnya, yang diperlukan masyarakat saat ini adalah pemimpin yang merakyat dan menyapa langsung keberadaan mereka.

“Iklan konvensional lewat televisi sudah tidak zaman. Kurang apa ARB dan Harry Tanoe beriklan di TV? Apa ARB naik elektabilitasnya? Apa Hanura naik suaranya? Enggak tuh,” tegas Yudha.

Bahkan, ia melihat saat ini terdapat ego sektoral antar partai koalisi. Ia mencontohkan konsolidasi di partai Golkar yang fokus ke isu Munas atau pemilihan Ketua Umum. Ia juga mencatat bagaimana PPP terus berupaya mengatasi masalah hukum yang menimpa Suryadharma Ali.

Pemandangan itu, lanjutnya, berbeda jauh dengan partai anggota koalisi di PDI-P. Semua partai terjun ke lapangan berinteraksi dengan basis massa. Tokoh semacam Surya Paloh juga Muhaimin dan Wiranto yang bahkan ikut blusukan.

“Intinya, kekuatan besar yang amburadul akan dikalahkan kekuatan sederhana namun berjiwa petarung,” pungkasnya. (Ind)