Indopolitika.com   Jurnalis Investigatif yang sejak lebih dari 20 tahun selalu memberi perhatian pada isu terkait Indonesia, Allan Nairn, menuliskan pengalamannya yang pernah mewawancarai Prabowo Subianto yang kini menjadi capres, isinya menghina fisik Almarhum Presiden RI Ketiga Abdurrahman ‘Gus Dur’ Wahid sebagai ‘orang buta’.

Dalam blog pribadinya di www.allannairn.org, Allan bercerita dia pernah bertemu dan berbincang dengan Prabowo, sebanyak dua kali di kurun waktu Juni dan Juli 2001. Lokasinya adalah markas perusahaan Prabowo di Indonesia.

Prabowo berbicara banyak hal dan topik, termasuk soal fasisme, demokrasi, kebijakan pembunuhan massal oleh tentara, dan hubungan dekatnya yang panjang dengan Pentagon dan Intelijen AS.

Allan mengatakan saat pertemuan itu, Gus Dur masih menjabat sebagai presiden. Dan tiga minggu setelah pertemuan keduanya dengan Prabowo, Gus Dur dilengserkan.

Allan, yang pernah memenangkan pernghargaan Robert F. Kennedy Memorial First Prize for International Radio untuk reportasenya di Timor Timur itu, mengaku masih mengingat apa yang disampaikan Prabowo dan secara jelas dituliskannya di blognya itu.

Menurut Prabowo, Indonesia masih belum siap untuk demokrasi karena masih ada kanibal dan kelompok-kelompok pelaku kekerasan. Karena itu, Prabowo menilai Indonesia masih membutuhkan rejim otoriter namun yang bersifat lunak.

Dan terkait Gus Dur, Prabowo mengkritik TNI yang tunduk padanya, padahal sang presiden buta secara fisik.

“Militer bahkan tunduk pada seorang presiden yang buta! Bayangkan! Lihatlah dia (Gus Dur), dia sangat memalukan,” kata Prabowo seperti dikutip dari blog www.allanairn.com, di Jakarta, Selasa (24/6).

Prabowo lalu membandingkan Gus Dur dengan PM Inggris saat itu Tony Blair, Presiden AS Bush, dan Presiden Rusia Vladimir Putin, yang menurutnya adalah para lelaki tampan.

“Dan kami mempunyai seorang laki-laki buta,” lanjut Prabowo.

Pada kesempatan itu, Prabowo juga mengaku memuja Presiden Pakistan Pervez Musharraf yang berani menahan PM negeri itu yang datang dari kalangan sipil. Walau demikian, Prabowo tak menjawab ketika Allan menanyai dia apakah berniat menjadi seperti Pervez Musharraf.

Di blognya, Allan mengaku sudah mengontak Prabowo untuk meminta ijin mempublikasikan wawancaranya itu. Namun walau belum mendapat persetujuan, Allan tetap memutuskan untuk mempublikasikannya. Sebab menurutnya, efek dari melanggar janji terdahulunya untuk menjadikan Prabowo sebagai sumber anonim, sebanding dengan kerugian besar yang mungkin dialammi rakyat Indonesia apabila informasi tentang yang bersangkutan tak diketahui publik sebelum memilih di TPS saat pilpres mendatang.

Allan juga mengatakan bahwa dia secara khusus menuliskan soal Gus Dur karena ketokohannya masih diingat banyak masyarakat Indonesia. Selain itu, karena Tim Pemenangan Prabowo-Hatta menggunakan cuplikan rekaman pernyataan Gus Dur untuk berkampanye di Pilpres 2014. (bs/ind)