Indopolitika.com  Laboratorium Psikologi Politik Fakultas Psikologi Universitas Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran Bandung, Ikatan Psikologi Klinis Indonesia, dan Ikatan Psikologi Sosial Indonesia, Kamis (3/7), merilis hasil survei aspek kepribadian calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) 2014.

Survei yang dilakukan pada 18-27 Juni dengan responden 204 psikolog menilai pidato, rekaman wawancara, catatan biografi, dan peristiwa penting dalam hidup capres-cawapres.

Dari survei tersebut diketahui, minat Prabowo terhadap dunia militer sudah terlihat sejak kecil, sehingga pada akhirnya memilih masuk Akademi Militer. Sejak remaja, Prabowo gemar membaca buku-buku tentang tokoh-tokoh dunia, terutama tokoh militer. Peristiwa gugurnya kedua pamannya di medan perjuangan sangat membekas dalam diri Prabowo. Tidak mengherankan apabila di kemudian hari semangat heroisme militer mendarah daging di dalam dirinya.

Nilai-nilai keprajuritan sangat melekat di dalam dirinya, bahkan dia menganggap dunia bisnis itu juga sama dengan dunia militer dan keprajuritan. Keduanya harus memiliki semangat pantang menyerah. Kecintaannya terhadap Indonesia tampak ketika Prabowo akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di jenjang perguruan tinggi, yaitu dengan pulang ke Indonesia dan bersekolah di Akabri untuk menjadi tentara.

Berdasarkan analisis psikobiografi, wawancara di media, dan pidato, menunjukkan beberapa hal yang menonjol dari Prabowo, antara lain keinginannya untuk berprestasi yang tinggi, sehingga dia gigih memperjuangkan cita-citanya. Akan tetapi, hal ini juga menyebabkan Prabowo menjadi orang yang terlihat ambisius.

Prabowo akan mencoba berbagai macam cara untuk dapat mencapai apa yang menjadi keinginannya tersebut. Ciri-ciri lain yang menonjol dari Prabowo adalah mengandalkan kerja fisik, disiplin ketat, tegas, berkemauan keras, serta berkeinginan untuk mengembalikan kejayaan masa lalu.

Motivasi Prabowo untuk berkuasa juga tergolong tinggi, sehingga ketika menjadi seorang pemimpin akan cenderung memiliki gaya kepemimpinan yang otoriter.

Dalam menjalin relasi dengan orang lain, Prabowo dapat menjalin relasi dengan banyak orang, akan tetapi kurang menunjukkan hubungan yang hangat dan kurang menunjukkan kerendahan hati. Dalam menjalin pertemanan juga cenderung merupakan hubungan pertemanan yang biasa dan bukan hubungan interpersonal karena Prabowo memiliki sifat cenderung tidak mudah memercayai orang lain, kecuali orang-orang dekatnya.

Dalam mengambil keputusan, Prabowo cenderung memiliki banyak pertimbangan, akan tetapi pertimbangannya tersebut didasarkan pada pendapat diri sendiri atau pendapat orang-orang terdekatnya saja, serta cenderung mengabaikan pendapat orang lain atau pendapat seluruh anggota rapat. Oleh sebab itu, gaya kepemimpinan yang lebih dominan dari Prabowo adalah otoriter.

Kondisi psikologis yang dapat dipotret adalah dalam menghadapi persoalan, Prabowo cenderung tidak dapat tenang. Prabowo cenderung tidak dapat bekerja di bawah tekanan saat menghadapi masalah yang kompleks. Kondisi-kondisi psikologis tersebut dapat menyebabkan Prabowo melakukan tindakan yang kurang tepat atau tidak sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.

Selain itu Prabowo diprediksi memiliki kepercayaan diri yang berlebihan dan berpotensi grandiose, yaitu penilaian yang berlebihan atas dirinya memiliki kekuasaan dan pengetahuan yang lebih tinggi dari orang lain. (sp/ind)