Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo telah mengeluarkan surat edaran kepada bupati dan walikota pada saat rapar koordinasi di Istana Bogor, Jawa Barat beberapa waktu lalu. Dalam surat itu, Tjahjo meminta agar dalam kunjungan kenegaraan baik di provinsi dan kabupaten/kota sebaiknya menyebut Jokowi dengan “Yang Terhormat, Presiden Republik Indonesia, Bapak Jokowi.”

Ketika dikonfirmasi, Sekretaris Negara Andi Widjajanto tak membantah hal itu. Menurut Andi, arahan itu memang benar atas petunjuk dari Jokowi.

“Presiden ingin disapa Pak Jokowi. Presiden tidak ingin disapa Bapak Insinyur Haji Joko Widodo. Ingin disapa Bapak Jokowi saja,” kata Andi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat 6 Februari 2015.

Jadi, kata dia, kalau jika ada acara formal, para kepala daerah cukup menyebut Presiden RI Bapak Jokowi saja, tanpa ada embel-embel apapun.

“Tanpa insinyur, tanpa haji dan tidak dipanjangkan Joko Widodo,” ujar dia.

Sehingga, kata dia, fokusnya jangan soal kata-kata “Yang Terhormat”. Namun, fokusnya adalah sebutan nama akrab Jokowi.

“Fokusnya jangan sebutan “Yang Terhormat’,” kata dia.

Alasannya, kata dia, selama ini Jokowi sudah akrab disapa dengan Jokowi sejak masih menjabat sebagai Walikota Solo hingga menjabat Gubernur DI Jakarta.

“Jadi presiden tidak menginginkan dengan jabatan presiden ini menjadi formal karena sudah akrab dan nyaman dengan sebutan Jokowi,” lanjut Andi. (ren)