Tangerang – Sejak awal kami menyatakan komitmen dengan tahapan berjenjang, karena itu amanah Undang-Undang yang berlaku. Walaupun, secara internal kami berpegang pada C1 hitung manual di TPS, itu yang kami bawa di PPK dan KPU saat hitung manual dan rekpitulasinya.

Kami intruksikan kepada semua saksi paslon no 1 untuk tidak hanya berpegang pada hasil quick count atau real count KPU, meskipun hasilnya tidak akan berbeda secara subtansial.

Rekapitulasi berjenjang itulah yang penting harus dikawal. Saksi kami kuat dan terlatih, form C1 yang kita miliki sangat kuat jadi pegangan. Hampir seluruh TPS sebanyak 16.540 form C1-nya kita pegang.

Kami mengikuti proses rekapitulasi dengan baik dan teliti, bila ada perbedaan pada setiap tahapan kan ada formnya seperti C1 dan form DA, bisa di konfirmasi secar terbuka di rapat pleno setiap tingkatan.

Mengenai kecurangan, kami rasa tuduhan dan demonstrasi itu hanya bentuk pelampiasan kekecewaan dari yang bakal kalah. Kami sangat memahami psikologi orang kalah, biasanya protes dan gugatan itu menjadi hiburan sementara saja. Semua tudingan lawan hanya karangan dan hoax.

Kita sudah bertanding fair, di arena yang sama, waktu kampanye yang sama, tahapannya sama, aturannya sama, wasitnya sama, batasannya sama, kesempatannya sama besar. Kalau kami akhirnya lebih unggul itu karena sistem kerja yang dijalankan lebih efektif, mesin politik bergerak terukur, sistematis dan jelas.

Saat ini, semua pandangan mata melihat sudah ada hasil, ibarat tanding sepakbola, kalau kalah jangan salahin lapangan atau wasit.

Kita harus sportif. Kami justru dari awal merasa tidak setara, mereka kan incumbent semua infrastruktur untuk melakukan kecurangan kan ada di mereka. Mereka petahana. Kalau petahana teriak kecewa karena kalah itu seperti melawan kehendak rakyat. Rakyat sudah memutuskan, mayoritas memenangkan WH ANDIKA, kasihan masyarakat yang sudah mengorbankan waktu untuk datang ke TPS, hanya demi sebuah kekecewaan, kok kita tidak hormati mereka dan proses yang telah berjalan. Ibarat kompetisi, marilah kita sudahi pertandingannya agar penonton atau masyarakat tidak jenuh dan bosan.