Indopolitika.com Pakar geodinamika Universitas Bonn Jerman, Profesor Stephen Miller, kembali menegaskan bahwa lumpur Sidoarjo yang terjadi depalan tahun silam adalah murni bencana alam. Ia bersikukuh meluapnya lumpur disebabkan gempa berkekuatan 6.3 skala richter yang terjadi dua hari sebelumnya di Yogyakarta. “Lumpur ini penyebabnya memang alamiah, bukan karena faktor non saintifik Lapindo Brantas. Baca saja studinya di Jurnal,” katanya ketika dihubungi oleh wartawan, Kamis (29/5).

Menurutnya, meskipun jarak kejadian kedua peristiwa itu mencapai 250 kilometer, bentuk dan struktur formasi batuan di Sidoarjo memiliki karaketistik lensa yang mengamplifikasi dan memfokuskan gelombang seismik dari tempat gempa. Gejolak energi kemudian mencairkan sumber lumpur dan menumpahkannya ke dalam patahan yang terkoneksi dengan sistem hydrothermal. Penelitian yang dilakukan tahun 2013 tersebut otomatis menyudahi kontroversi seputar sebab-musabab lumpur Sidoarjo yang sempat mengemuka, khususnya pada tahun 2011. Minimal, sampai saat ini belum ada yang mampu membantah hasil penelitian itu dari kalangan ilmuan. (Baca juga: Humanitus Sidoarjo Fund : Area Lumpur Sidoarjo Seharusnya untuk Kepentingan Pembangunan)

Stephen Miller juga menyatakan, lumpur Sidoarjo pada saatnya pasti berhenti. Hal ini mengingat berbagai faktor yang memperlihatkan sumber lumpur tak lagi sebesar sebelumnya. “Seharusnya tidak dijadikan momok yang terus mengerikan. Lumpur sidoarjo memang merupakan brand new tectonic system,” ungkapnya.

Di samping itu, lanjutnya, area lumpur bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi baru di Indonesia (new natural energy), volcano hydro energy, Clean energy, termasuk dijadikan sektor pariwisata. Untuk sektor pariwisata, area lumpur bisa menjadi “the beauty of mud” yang memberi daya tarik wisatawan dalam negeri dan mancanegara. Saat ditanya keterkaitannya dengan politik, Stephen Miller menjawab penelitiannya sama sekali tak terkait dengan kepentingan politik tertentu. Ia menegaskan penelitiannya murni demi ilmu pengetahuan yang bisa diuji dan dipertanggungjawabkan. “Saya tidak paham politik Indonesia. Yang pasti seharusnya bencana alam ini tidak dikaitkan dengan isu politik,” pungkasnya. (Ind/rl)