Indopolitika.com –  Program ekonomi masing-masing calon presiden (capres) dinilai bakal sulit terealisasi. Selain belum menentukan prioritas, ruang fiskal untuk merealisasikan program-programnya pun sudah terbatas.

“Anggaran sudah di-lock, ruang fiskal yang tersedia paling Rp 250 triliun. Lalu alokasi untuk desa atau program pertahanan itu (anggarannya) dari mana,” kata Lin Che Wei, pendiri Independent Research Advisory Indonesia (IRAI), kepada pers di Jakarta, Selasa (10/6).

Menurutnya, anggaran yang sudah dikunci itu antara lain untuk pendidikan serta transfer ke daerah. “Malah ada usulan dari Jokowi 1,5 persen anggaran dialokasikan ke pertahanan. Ini artinya mengunci juga,” kata Lin Che Wei. “Jadi siapa pun presidennya, fleksibilitasnya sangat terbatas.”

Ekonom Universitas Indonesia Mohammad Ikhsan mengatakan, anggaran yang selama ini masih kurang adalah untuk infrastruktur. Kebutuhannya semakin besar tetapi alokasinya terbatas. “Lebih banyak untuk subsidi energi,” kata dia.

Padahal, Ikhsan menuturkan, pertumbuhan ekonomi yang berkualitas mengandalkan infrastruktur. “Tapi dengan program yang banyak, prioritas (infrastruktur) tidak disebutkan oleh keduanya (capres),” tuturnya.

Dia menambahkan, ketimbang dipakai untuk subsidi energi, lebih baik dananya dipakai untuk bagian yang produktif. “Kebijakan energi, kalau nggak bisa kurangi subsidi naikkan saja harga. Karena akan sulit sekali menekan anggaran jika tidak menaikan harga BBM,” jelasnya.

Selain itu, yang terpenting menurutnya yakni implementasi karena permasalahan pada pemerintahan saat ini, menurutnya adalah persoalan implementasi. “Jadi garis-garis besarnya sudah ada, tetapi pelaksanaannya yang nggak ada. Jadi pilihlah capres yang bisa mengimplementasikan kebijakannya,” tutur Ikhsan.

Adapun kata Lin Che Wei, untuk menjaga agar program dapat berjalan kedua kandidat perlu mencari menteri yang mampu menjaga anggaran dengan disiplin. Meski ada banyak permintaan pihak lain untuk menggunakan anggaran.

“Jadi dalam kondisi fleksibilitas yang sangat sedikit. Siapa yang bisa keras menjaga anggaran? Yang bisa disiplin fiskal agar tidak diganggu oleh pihak lain,” kata dia. (kd/ind)

 Program ekonomi masing-masing calon presiden (capres) dinilai bakal sulit terealisasi. Selain belum menentukan prioritas, ruang fiskal untuk merealisasikan program-programnya pun sudah terbatas.

“Anggaran sudah di-lock, ruang fiskal yang tersedia paling Rp 250 triliun. Lalu alokasi untuk desa atau program pertahanan itu (anggarannya) dari mana,” kata Lin Che Wei, pendiri Independent Research Advisory Indonesia (IRAI), kepada pers di Jakarta, Selasa (10/6).

Menurutnya, anggaran yang sudah dikunci itu antara lain untuk pendidikan serta transfer ke daerah. “Malah ada usulan dari Jokowi 1,5 persen anggaran dialokasikan ke pertahanan. Ini artinya mengunci juga,” kata Lin Che Wei. “Jadi siapa pun presidennya, fleksibilitasnya sangat terbatas.”

Ekonom Universitas Indonesia Mohammad Ikhsan mengatakan, anggaran yang selama ini masih kurang adalah untuk infrastruktur. Kebutuhannya semakin besar tetapi alokasinya terbatas. “Lebih banyak untuk subsidi energi,” kata dia.

Padahal, Ikhsan menuturkan, pertumbuhan ekonomi yang berkualitas mengandalkan infrastruktur. “Tapi dengan program yang banyak, prioritas (infrastruktur) tidak disebutkan oleh keduanya (capres),” tuturnya.

Dia menambahkan, ketimbang dipakai untuk subsidi energi, lebih baik dananya dipakai untuk bagian yang produktif. “Kebijakan energi, kalau nggak bisa kurangi subsidi naikkan saja harga. Karena akan sulit sekali menekan anggaran jika tidak menaikan harga BBM,” jelasnya.

Selain itu, yang terpenting menurutnya yakni implementasi karena permasalahan pada pemerintahan saat ini, menurutnya adalah persoalan implementasi. “Jadi garis-garis besarnya sudah ada, tetapi pelaksanaannya yang nggak ada. Jadi pilihlah capres yang bisa mengimplementasikan kebijakannya,” tutur Ikhsan.

Adapun kata Lin Che Wei, untuk menjaga agar program dapat berjalan kedua kandidat perlu mencari menteri yang mampu menjaga anggaran dengan disiplin. Meski ada banyak permintaan pihak lain untuk menggunakan anggaran.

“Jadi dalam kondisi fleksibilitas yang sangat sedikit. Siapa yang bisa keras menjaga anggaran? Yang bisa disiplin fiskal agar tidak diganggu oleh pihak lain,” kata dia.

– See more at: http://katadata.co.id/berita/2014/06/10/program-ekonomi-capres-akan-sulit-terealisasi#sthash.A4M9FQPZ.dpuf