Indopolitika.com  Koordinator nasional Relawan Demi Indonesia (ReDi) Amal Al Ghazali menyoroti pernyataan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dalam debat calon presiden-calon wakil presiden yang digelar KPU pada Senin (9/6) lalu. Hal yang disorot Amal adalah pernyataan kubu Prabowo-Hatta di bidang penegakan hukum.

Amal mengatakan, Hatta telah membuat pernyataan yang berbeda dengan fakta ketika menyatakan bahwa penegakan hukum tidak boleh diskriminatif sehingga tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Amal menyebut Hatta telah melupakan kasus putranya, Rasyid Rajasa yang terlibat kecelakaan maut di Tol Jagorawi, tahun lalu hingga mengakibatkan dua korban jiwa.

“Masa seorang Hatta Rajasa tidak malu berbicara tentang kesetaraan hukum? Apa dikiranya rakyat sudah lupa tabrakan maut anaknya, tragedi BMW-Luxio yang telah merengut nyawa di Tol Jagorawi?” kata Amal di Jakarta, Kamis (12/6).

Dalam insiden itu, Rasyid yang dinyatakan bersalah karena menghilangkan nyawa orang lalin, hanya dikenai hukuman percobaan. Karenanya Rasyid pun tak merasakan hukuman penjara. Alasan majelis yang mengadili Rasyid, karena ada pertimbangan restorative justice.

“Kenapa hakim sampai berani-beraninya mempertimbangkan restorative justice? Padahal sistem hukum Indonesia sama sekali tidak mengenal restorative justice. Kalau mengganti biaya pemakaman, pengobatan, dan memberi santunan dianggap restorative justice, maka hal itu sangatlah salah,” kata Amal menyesalkan.

Kalaupun ada pemberian santunan, bantuan ataupun ganti rugi yang dilakukan dari pihak keluarga Hatta Rajasa, kata Amal, hal itu bukanlah merupakan suatu inisiatif mulia. Sebab, lanjut Amal, hal itu sekadar konsekuensi hukum sebagai pihak yang menyebabkan kecelakaan.

Amal pun meyakini ingatan masyarakat akan kejadian itu masih bagus. Karenanya, Amal menyarankan Hatta untuk lebih berhati-hati sebelum menanggapi sebuah pertanyaan yang pada akhirnya akan menjadi bumerang.

“Rakyat Indonesia bisa melihat dengan jelas ada ketidak adilan di perkara tabrakan maut anaknya Hatta Rajasa itu, lha kok sekarang bapaknya berani bicara mengenai kesetaraan hukum. Apa disangkanya rakyat Indonesia bodoh dan pelupa?” tandasnya. (Ind/jp)