Indopolitika.com – Hasil survei yang dirilis Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menunjukkan bahwa mayoritas warga NU lebih memilih pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) ketimbang Prabowo Subianto-Hatta Rajasa jika Pilpres digelar pada saat survei dilakukan.

Temuan LSI tersebut menurut pengamat politik dari Lingkar Madani (Lima) Indonesia Ray Rangkuti menandakan faktor Hasyim Muzadi dan Khofifah Indar Parawansa selaku pendukung Jokowi-JK secara kultural dan lebih berpengaruh dibandingkan Said Aqil Siradj dan Mahfud MD yang mendukung pasangan Prabowo-Hatta.

“Ada tiga hal yang membuat mengapa Hasyim Muzadi dan Khofifah terlihat lebih berpengaruh secara politik dibandingkan Said-Mahfudz. Setidaknya melalui survei itu,” kata Ray kepada wartawan, Sabtu (31/5/2014).

Hal pertama, menurut Ray, bagaimanapun Hasyim adalah mantan Ketua Umum PBNU selama dua periode. Wibawa dan ketokohan Hasyim terus terpelihara dengan baik hingga sekarang. Bahkan pada tingkat tertentu, kata dia, penerimaan kultural warga NU terhadap Hasyim terlihat tak tergerus sampai sekarang.

“Komunikasi beliau dengan basis-basis kiai, ulama dan cendekiawan NU tetap terpelihara dengan baik. Efeknya tentu pada sikap politik warga nahdhiyin. Saat yang sama, figur Khofifah bagi warga fatayat NU tentu menonjol. Untuk saat ini, Khofifah seperti figur fatayat NU yang terlihat dominan. Di barisan inilah, perempuan (fatayat) warga NU berdiri mengikuti alur pilihan politik Khofifah,” jelasnya.

Hal kedua, kata dia, Said Aqil sekalipun sebagai Ketua Umum PBNU, tetapi terlihat tidak punya pengaruh kultural yang signifikan bagi warga NU. Kharismanya, kata dia, tak terlalu kuat melampaui kharisma Hasyim.

“Lebih-lebih dukungan Said ke Prabowo lebih sebagai sikap pribadi dari pada sikap organisasi. Di saat yang sama, Said terlihat tidak ‘mengkomunikasikan’ pilihan politknya ke basis-basis NU,” ujarnya.

Sementara Mahfud MD kenapa tidak berpengaruh karena memang tak memiliki basis yang berakar di NU. Pintu masuk Mahfud ke lingkungan NU banyak melalui PKB, yang justru saat ini ditinggalkannya demi pasangan Prabowo. “Sudah dapat dibaca apa efek dua tokoh ini ke warga NU,” tukasnya.

Ketiga, lanjut dia, kemampuan Hasyim Muzadi dan Khofifah mengkomunikasikan pilihan-pilihan politik mereka ke warga NU tentu menjadi salah satu faktor. Berbeda dengan Said, kata Ray, dua tokoh ini menjelaskan secara terbuka argumen-argumen mereka memilih pasangan Jokowi-JK. Selain karena alasan-alasan umum, penjelasan mereka berdua bahwa JK adalah kader NU sangat membantu penerimaan warga NU atas Jokowi-JK.

“Di sini politik asosiasi jadi terlihat. Sementara di pasangan Prabowo-Hatta, asosiasi itu bukan saja sulit dijelaskan tapi bahkan mungkin dilihat bertolak belakang dari ke NU-an. Di sini, Said dan Mahfud dilihat bukan sebagai representasi NU. Tapi sebagai pribadi yang memiliki hubungan dengan NU. Kiranya inilah yang membuat mengapa Hasyim Muzadi dan Khofifah terlihat lebih berpengaruh secara politik dibandingkan Said-Mahfud,” tambahnya.

Seperti diketahui, dalam survei LSI pasangan Jokowi-JK unggul di empat komunitas pemilih yakni komunitas NU, petani, buruh, dan ibu rumah tangga. Sementara Prabowo-Hatta hanya unggul di komunitas Muhammadiyah. (*)