Indopolitika.com  Revolusi mental yang diusung Jokowi bersendikan Pancasila dan kepribadian Indonesia. Kebijakan yang diusung Jokowi pun lebih berpihak pada petani, guru dan pedagang pasar yang merupakan pelaksanaan sila kemanusiaan dan keadilan.

Demikian disampaikan Jurubicara Tim Pemenangan Jokowi-JK, Hasto Kristiyanto, beberapa saat lalu (Jumat, 27/6). Hasto pun mengatakan, karakter Jokowi yang saleh dan merakyat adalah cermin pemahaman Ketuhanan Yang Maha Esa dan kemanusiaan. Sementara diterimanya Jokowi oleh seluruh lapisan masyarakat adalah cermin semangat Persatuan Indonesia.

“Sedangkan kemampuannya menyelesaikan masalah dengan cara berdialog dan menghormati rakyat kecil adalah cermin musyawarah mufakat,” kata Hasto.

Karena itulah, kata dia, revolusi mental adalah gagasan original Jokowi yang menyatu dengan apa yang dibutuhkan rakyat Indonesia saat ini. Lebih-lebih, dengan melihat merosotnya disiplin nasional, penyakit korupsi di seluruh lapisan, kemiskinan keteladanan dari elit dan melunturnya kebanggaan sebagai bangsa.

“Pak Jokowi meyakini bahwa dengan revolusi mental, Indonesia bisa melesat jauh meninggalkan Singapura dan Malaysia. Dengan revolusi mental kita tidak akan lagi dilecehkan sebagai bangsa. Sebab yang didorong adalah karakter, kepribadian, produktivitas dan daya saing. Ini bagian dari nation and character building,” jelasnya.

Karena itulah, lanjut Hasto, tuduhan Fadli Zon bahwa Revolusi Mental merupakan gagasan komunis ala Jokowi bukan hanya tembakan tanpa dasar, namun itu merupakan pukulan dan tembakan bagi dirinya sendiri.

“Mengapa? Sebab Fadli Zon lah yang justru mengidentikkan dirinya dengan Komunisme Karl Marx,” kata Hasto, sambil mengatakan, spiritualitas Fadli Zon dengan simbol ziarahnya ke makam Karl Marx sebenarnya sudah menunjukkan siapa pengagum komunis, dan siapa pemegang Pancasila dengan sila Ketuhanannya. (rm-ind)