Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin mengatakan Rusia siap membantu Indonesia dalam mewujudkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) untuk kepentingan pembangunan dan perdamaian.

“Rusia sudah memiliki pengalaman dalam mengelola nuklir. Karena itu, jika diminta, kami siap membantu membangun PLTN dan mengembangkan energi nuklir di Indonesia,” ujar Galuzin di kediaman Duta Besar Rusia, Senin, (19/1).

Namun, dia melanjutkan, Rusia tidak akan mencampuri urusan dalam negeri Indonesia dalam menentukan jadi tidaknya membangun pembangkit listrik tenaga nuklir tersebut.

“Pemerintah dan masyarakat Indonesia tentunya harus menentukan sendiri jalan tidaknya proyek ini. Rusia akan selalu mendukung jika untuk tujuan damai dan kepentingan masyarakat luas,” tutur Galuzin.

Sebelumnya, pembangunan PLTN menjadi polemik di Indonesia. Padahal menurut Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), nuklir di Indonesia akan digunakan perdamaian dan pembangunan negara.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh BATAN, 70 persen masyarakat Indonesia menyatakan setuju energi nuklr Indonesia dikembangkan untuk kepentingan masyarakat.

Beberapa pihak menyatakan ketidaksetujuanya atas rencana pembangunan PLTN dengan alasan rentan terjadi kecelakaan nuklir yang berbahaya.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi M. Nasir dalam beberapa kesempatan juga menyampaikan bahwa masyarakat tidak perlu takut akan nuklir sebab merupakan sumber energi yang sangat potensial.

Sementara itu, selain membuka peluang untuk bekerjasama dalam pengembangan nuklir, Rusia juga melihat banyak peluang untuk mengembangkan bentuk kooperasi tersebut di bidang-bidang lain seperti infrastruktur, sumber daya alam dan militer.

Pemerintah Rusia sendiri, lanjut Galuzin, menganggap Indonesia adalah negara penting untuk kerja sama pengembangan ekonomi. Selain karena Indonesia merupakan negara terbesar di Asia Tenggara, hubungan kedua negara sudah terjalin sejak lama.

Pada tahun 2015, Indonesia dan Rusia akan melanjutkan proses kerja sama beberapa proyek seperti proyek rel kereta api sepanjang 203 kilometer di Kalimantan Timur dan proyek pembangunan pabrik pengolahan bauksit menjadi alumina di Kalimantan Barat. (ant)