Jakarta – Tensi politik DKI pada Pilkada 2016 sangat tinggi. Ketiga kandidat memiliki peluang berimbang. Ini terekam dari hasil survey terbaru yang dirilis beberapa lembaga survey, semisal Indikator dan Charta.

Dalam perjalanan Ahok yang paling awal deklarasi, pada beberapa bulan sebelum kasus pidato di Kepulauan Seribu selalu unggul dalam hasil survey. Namun dalam hitungan hari, bisa di salip oleh pasangan Agus-Silvy setelah kasus tersebut melejit.

Menurut Pengamat politik Lembaga Konsep Indonesia, Agus Maulana menjelaskan, dari Hasil survey tiga Lembaga Survey: Charta Politika (17-24 November 2016), Poltracking (7-17 November 2016) dan Indikator (15-22 November 2016) menunjukkan bahwa pasangan Agus-Silvy mengungguli Ahok-Djarot dan Anies-Sandi. Namun keunggulan Agus atas Ahok berada pada margin of error.

“Hasil survey terbaru, memang menunjukkan Agus-Silvy unggul atas Ahok-Djarot dan Anies-Sandi, namun masih berada pada margin of error,” Jelas Agus saat ditemui di kantornya, Jakarta (5/12).

Lanjut, Agus juga menyampaikan, hasil survey ketiga lembaga menunjukkan Pasangan Agus-Slvy 30,4℅ (Charta Politika); 27,92℅ (Poltracking); 30,4℅ (Indikator), pasangan Ahok-Djarot: 29,3℅ (Charta Politika); 22% (Poltracking); 26,2℅ (Indikator), dan pasangan Anies-Sandi: 26,9℅ (Charta Politika); 20,42℅ (Poltracking); 24,5℅ (Indikator). Menurut Agus, “Angka-angka di atas menunjukkan bahwa ketiga pasangan memiliki peluang yang sama dan Pilkada akan berjalan dua putaran, karena tidak ada pasangan yang meraih angka di atas 50℅.”terangnya.

Saat ditanya terkait aksi 212 dan 412, Agus menjawab, “memang persaingan sengit seakan hanya dilakukan oleh pasangan Ahok-Djarot dan Agus-Silvy saja, jika kita hanya melihat lalu lintas di media, terutama media sosial. Namun, keuntungan ada dipihak pasangan Anies-Sandi,” jawab Agus.

Selain itu, Agus menambahkan, saat ini pasangan Anis-Sandi diuntungkan karena pasangan Ahok-Djarot dan Agus-Silvy saling menjegal dan menjatuhkan. Posisi seperti ini harus dimanfaatkan oleh pasangan Anies-Sandi dengan melakukan konsolidasi ke bawah. Jika tim Anies-Sandi memiliki jaringan efektif, maka akan bisa menyalip kontestan lainnya.

“Anies-Sandi cukup bermain cantik saja, tidak usah ikut menyerang atau show off kekuatan masa ke publik, cukup konsentrasi memperkuat jaringan ke TPS-TPS saja, toh kemenangan ditentukan disana (TPS),” pungkas Agus. – (Rud)