JAKARTA – Dua bakal calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dan Yusril Ihza Mahendra saling klaim memiliki kedekatan dengan Golkar. Ini terjadi menyusul santernya kabar perubahan sikap Golkar dalam mendukung bakal calon gubernur DKI Jakarta 2017 mendatang.

Menanggapi hal tersebut, Pengamat politik Pusat Kajian Islam & Pancasila Yudha Firmansyah mengatakan, baik Ahok maupun Yusril tak usah terlalu Geer. Sebab, perubahan itu lebih karena taktik diplomatis Golkar yang baru saja sukses gelar Munaslub.

“Ini kan strategi komunikasi aja, Pak Setya Novanto ingin lihat respon publik terhadap Golkar yang baru seperti apa,” katanya ketika dihubungi, Kamis (19/5).

Menurut Yudha, strategi itu cukup berhasil karena kedua kubu bakal calon sama-sama memberi respon positif. Ahok dan pendukungnya bahkan sangat berharap Golkar benar-benar mendukungnya meski dari jauh hari telah memutuskan maju lewat perseorangan.

“Memang lucu sih. Ngungkit kedekatannya dengan orang-orang Golkar, merasa kader, padahal kutu loncat, mengkhianti Golkar,” ujarnya.

Ia melihat adanya inkonsistensi dari kubu Ahok dan pendukungnya. Konsistensi ini tertangkap dari sikap, pergerakan, dan pernyataan mereka di media. Padahal, jika Ahok dan tim sudah mantap maju lewat jalur non-partai, mestinya tak perlu cari perhatian ke partai lagi.

“Sampai ada penggiringan opini seolah-olah Golkar sudah merapat ke Ahok, mau dukung mati-matian. Dari mana dasarnya?” tanya Yudha heran.

Beda halnya dengan Yusril yang akan maju lewat partai politik. Bagi Yudha, wajar saja bila Yusril melobi atau ikut tes penjaringan partai karena mekanismenya memang memungkinkan.

“Cerita telponan dengan Setya Novanto itu termasuk lobi penegasan posisi, harus dibaca sebagai bentuk respon atas sikap Golkar tadi,” tandasnya.

Dalam pengamatannya, sampai saat ini belum muncul sikap resmi partai Golkar kemana. Yang jelas, imbuhnya, Golkar tak akan sembarangan mendukung bakal calon mengingat Pilkada 2017, utamanya DKI, jadi pertaruhan pertamanya.