Indopolitika.com  Tudingan Sekretaris Timses Prabowo-Hatta, Fadli Zon, mengenai konsep revolusi mental yang digagas capres Joko Widodo dengan menyelewengkan sebagai gagasan Karl Marx merupakan bukti nyata ngawurnya kubu Prabowo-Hatta melihat potensi kemenangan Pasangan Jokowi-JK.

Tim Kampanye Nasional Jokowi-JK, Muhammad Hanif Dhakiri dalam rilisnya,  Jumat (27/6/2014), mengatakan ungkapan Fadli Zon itu juga membuktikan kebodohan dia sebagai umat Islam, karena sesungguhnya konsep revolusi Mental dan Akhlak itu adalah ajaran Rasulullah SAW.

“Kalau kita mau berpikir obyektif, tak ada kebencian dan kepentingan politik, kita akan sepakat bahwa kebobrokan mental dan moral di negeri ini sudah sedemikian parah.

Maka dari itu, kita harus melakukan Revolusi Mental dan moral anak bangsa ini. Sebab cara inilah yang dilakukan oleh Rasululah ketika pertama kali mendapat mandat dari Allah sebagai nabi dan rasul,” kata Hanif.

Menurut Gus Hanif yang santri tulen ini, konsep revolusi mental dan moral (akhlak) ala rasulullah bisa dibaca dalam sirah nabawiyah atau sejarah perjuangan nabi dalam menegakkan agama Allah dan menyebarkan islam di Jazirah Arab.

Sebab, semua kaum muslimin yang baik pasti tahu dan pernah membaca bahwa situasi dan kondisi masyarakat Arab saat penunjukan rasulullah sebagai nabi dan rasul benar-benar dalam masa kegelapan alias masa jahiliyyah.

“Tentu kita masih ingat bagaimana keadaan bangsa Arab sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW. Kita sering menyebut masa itu sebagai zaman jahiliyyah.

Satu sistem kehidupan yang tak teratur baik dalam masalah ketuhanan, kehidupan, hukum, sosial, moral dan mental yang sangat tak manusiawi dan tak bermoral, karena kebenaran itu hanya milik penguasa.

Hingga kemudian Allah SWT mengutus seorang Rasul akhir zaman (Nabi Muhammad SAW) untuk merevolusi  mental dan akhlak, baik dalam tataran ketuhanan dari politeisme ke monoteisme, maupun dari tatanan social yang jahiliyah kepada tatanan social yang beradab dan berperikemanusiaan dan keadilan sebagaimana sabdanya, ”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. (HR: Bukhari dalam shahih Bukhari kitab adab)” terang Tokoh Muda NU dan PKB ini.

Pria yang menjabat sebagai Ketua Umum Garda Bangsa PKB ini menambahkan, apa yang digagas dan dibangun oleh Rasulullah pertama kali saat diutus sebagai nabi dan rasul dengan merevolusi mental dan moral atau akhlak bangsa Arab yang tidak beradab saat itu, adalah inspirasi bagi pasangan Jokowi-JK untuk mencontoh dan melanjutkan perintah rasulullah tersebut.

Sebab, dalam sejarah pembentukan masyarakat yang beradab dan islami itu, nabi memulai dengan pembangunan moral dan mental masyarakatnya terlebih dahulu sebelum memberikan ilmu pengetahuan.

“Dalam sejarah disebutkan bahwa dalam membentuk masyarakat yang islami, Nabi Muhammad SAW memulai dengan mengajarkan adab, moral, akhlaq dan pembangunan mental tentang tauhid dan solidaritas kemanusian.

Ketika para sahabat sudah ikut dengan revolusi mental dan moral ala nabi, baru nabi mengajarkan ilmu tentang islam lebih jauh, baik soal ubudiyah maupun muamalah dengan sesama manusia,” tegasnya.

Imam menambahkan, mengapa Revolusi Mental ala Jokowi ini sangat penting? Selain mencontoh dan menjalankan ajaran rasulullah, juga  ternyata Mental dan Akhlak ini mempunyai kedudukan penting dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, visi Revolusi Mental oleh jokowi ini harus kita dukung dan apresiasi jika kita ingin Indonesia menjadi Negara besar dan disegani.

“Kesimpulannya,  revolusi mental, moral, akhlak, budaya dan peradaban yang dilakukan Nabi Muhammad SAW lebih 15 abad lalu amat sangat patut dan tepat untuk dilanjutkan dan laksanakan kembali di negeri yang kita cintai ini.

Diharapkan dengan visi revolusi Mental ala rasulullah ini, kita dapat meneguhkan kembali keyakinan masyarakat Indonesia yang sedang digempur demoralisasi di berbagai sektor kehidupan, bahwa role model pembangunan mental dan akhlak yang baik ala rasulullah adalah pas dan tepat bagi bangsa ini,” tegasnya. (*)