Indopolitika.com – Pernyataan Calon presiden (capres) Prabowo Subianto yang  mengatakan bangsa Indonesia kadang-kadang terlalu ramah, naif, lugu dan goblok (bodoh) menuai berbagai reaksi negatif dari masyarakat.

Pasalnya, pernyataan Prabowo dalam acara “Konsolidasi Nasional Pemenangan Pilpres 2014 (Election Update ke-5)  yang diselenggarakan DPP PKS di Hotel Chandra Kirana, Jakarta, Selasa (27/5) dianggap tidak mencerminkan sikap keteladanan seorang pemimpin. Ucapan Prabowo dianggap kasar, dan malah memicu antipati pemilih.

Reaksi negatif tersebut ramai diperbincangkan di media sosial twitter. Salah satunya, Fadjroel Rahman, pegiat anti korupsi itu menulis bahwa Prabowo sendiri yang “geblek”, karena mengatakan rakyat Indonesia Goblok.

“Ini capres geblek RAKYAT-nya saja dibilangin goblok > Prabowo: Bangsa Indonesia Kadang-kadang Naif dan Goblok,” tulis Fadjroel  melalui akun twitternya @Fadjroel.

Komentar sejenis juga disinggung Mohamad Guntur Romli, intelektual muda Islam yang telah menulis sejumlah buku dan pernah menjadi pembawa acara program bincang-bincang di salah satu radio itu menyebut, pernyataan Prabowo tidak tepat, karena membincangkan bangsa goblok, tapi Prabowo berambisi jadi Presiden Indonesia.

“Ngomongin bangsa ini goblok tapi nafsu banget pengen jd presidennya… ,” kicau @GunRomli.

Komentar lain juga disebutkan oleh akun @itemkuitemic, dia tidak setuju dengan pernyataan tersebut, karena menurut dia, mengatakan rakyat daif dan goblok bukanlah cara yang keren untuk merebut hati pemilih.

“@itemkuitemic: Ngata2i rakyat naif dan goblok bukanlah cara yg keren utk merebut hati rakyat (pemilih), Jenderal!”, tulisnya.

Menurut pengamat politik, Konsep Indonesia (Konsepindo), Budiman Hidayat, sebaiknya para calon pemimpin bangsa memberikan keteladanan dari segala aspek termasuk pilihan kata-kata yang baik dan santun.

Budiman menghawatirkan jika kata kata kotor itu di konsumsi oleh anak-anak. “Tentu disayangkan jika para calon pemimpin bangsa tidak memberikan keteladanan dalam bertutur kata yang baik, bagaimana kalau anak-anak kita yang mendengarkan kata kata itu? kan ironi”, ulasnya. (Ind)