Indopolitika.com  Hatta Rajasa menjadi Menteri Perhubungan pada tahun 2004-2007, banyak sekali kasus terjadinya kecelakaan pesawat dan kapal laut  di Indonesia. Diantaranya:

1. Kecelakaan Lion Air Penerbangan JT 538, 30 November 2004, tergelincir dibandara Adi Sumarno Solo, menewaskan 26 orang.

2. Kecelakaan Mandala Airline 91, 5 September 2005, di bandara Polonia, menewaskan 101 orang penumpang dan kru, juga 44 penduduk yang ketiban badan pesawat. Jadi total yang wafat 145 orang

3. Kecelakaan KM Digoel, di laut Arafuru, 8 Juli 2005, kapal tenggelam, total korban 184 orang ditemukan tewas dan hilang

4. Kecelakaan KM Senopati Nusantara, 30 Desember 2006, kapal tenggelam di kepulauan Karimun Jawa, Jawa Tengah, korban 411 tewas dan hilang

5. Kecelakaan Garuda GA 200, 7 Maret 2007 di Bandar Udara Adisucipto Jogja, korban mencapai 22 orang tewas

6. Kecelakaan Adam Air Penerbangan 574, jurusan Jakarta-Surabaya-Menado, 1 Januari 2007, seluruh penumpang diperkirakan tewas dan hilang (102 orang)

Demikian kecelakaan besar yang menimpa dunia transportasi Indonesia ketika Hatta Rajasa menjadi Menteri Perhubungan.

“Ini tentu terkait dengan sistem keselamatan transportasi Indonesia yang memang masih lemah sekali,” tulis Ilyani Sudardjat di situs jurnalis warga ternama, Selasa, (10/6).

Sementara itu, Ketua Pusat Kajian Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Putra Anton, meminta kepada Calon Wakil Presiden Jusuf Kalla agar tidak segan menanyakan banyaknya kecelakaan pesawat terbang ke Hatta Rajasa. Pasalnya, hal ini menjadi persoalan penting di bidang teknologi sebagai salah satu tema yang akan dibicarakan dalam debat  Cawapres  yang digelar Minggu 29 Juni 2014 nanti.

“Ini krusial. Kecelakaan itu banyak menelan korban nyawa. Ini menyangkut rendahnya penerapan standar teknologi yang diterapkan di Indonesia,” kata Putra Anton.

Menurutnya, selain karena penerapan standar teknologi yang masih rendah, kecelakaan pesawat tidak lepas dari kurang intensifnya pengawasan pemerintah dalam menjamin sistem keselamatan transportasi. Di samping itu, komitmen pemerintah dalam memajukan dan mengembangkan teknologi nasional juga belum maksimal.

“Buktinya, inovasi teknologi pesawat terbang di Indonesia saat ini masih jauh dibanding standar pesawat modern yang berlaku di Eropa dan Amerika Utara,” ujarnya.

Karena itu, ia menilai sangat tepat jika nanti Jusuf Kalla menanyakan langsung kepada Hatta Rajasa sebagai mantan Menteri Riset dan Teknologi dan mantan Menteri Perhubungan. “Iya. Dan kecelakaan paling banyak terjadi saat beliau jadi Menteri Perhubungan,” tambahnya. (ind)