Oleh: Veri Muhlis Ariefuzzaman (Direktur Konsepindo Reserach & Consulting)

Mari membahas soal siapa kira-kira yang akan menang di Pilkada DKI bulan ini.  Sekaligus juga kita analisis, apakah dukungan PPP dan PKB memberi dampak elektoral alias akan bikin Ahok menang atau tidak.

Para pendukung kedua paslon pasti punya alat deteksi, biasanya ada kontrak dan atau bantuan dari lembaga survei. Biasanya pula, lembaga survei itu merilis temuan surveinya ke publik walau tentu beberapa “temuan rahasia” tetap disembunyikan agar tetap rahasia. Nah membahas soal temuan “rahasia” itu dalam survei adalah kunci kemenangan peserta pilkada. Jika tak pintar membaca hasil survei, bisa-bisa salah diagnosa dan resep pemenangan malah berubah jadi resep bunuh diri.

Bagaimana dengan hasil survei pilkada DKI? Hasilnya sudah gamblang, Anies-Sandi memimpin dengan selisih signifikan. Kenapa saya katakan begitu, karena selisih di atas 4%++ pada pilkada yang head to head adalah jauh, lebar dan sulit dikejar. Sebelum bahas hal itu secara gamblang, kita lihat dulu beberapa hasil survei yang bisa diakses:

1. MEDIAN
Anies-Sandi 49,8%
Ahok-Djarot 43, 5%
TT/Rahasia.  6,7 %
(Survei 1 sd 6 April 2017)

2. LSI Denny JA
Anies-Sandi 49,7%
Ahok-Djarot 40,5%
TT/Rahasia.   9,8 %
(Survei 27 feb sd 3 maret)

3. Sinergi Data Indonesia, SDI
Anies-Sandi 49,20 %
AHOK-Djarot 42,20
TT/Rahasia    8,60 %
(Survei 10 sd 17 Maret 2017)

4.. Lembaga Survei Politik Indonesia (LSPI)
Anies-Sandi 49,80
Ahok-Djarot 44,10
TT/Rahasia.    6,10
(Survei Maret/April 2017)

Ada juga hasil survei lain tapi saya gak tampilkan semua. Memang ada  hasil survei yang beredar menyatakan selisih keduanya tinggal 1% yang tidak jawab dan rahasia 5,2%, survei ini jika melihat dari logo yang beredar adalah lembaga yang patut diduga menjadi campaigner atau setidaknya pengurus lembaga yang mendukung Ahok.

Apa inti dari semua temuan survei itu? Anies-Sandi menang bukan? Iya! Temuannya semua sama: pilkada DKI putaran kedua ini jika dilaksanakan pada Bulan Februari, Maret dan April bahkan hingga beberapa hari menjelang pemungutan suara, dimenangkan oleh Anies-Sandi. Itu kesimpulan penting dan sepertinya harus disepekati semua. Data tak bisa dibantah.

Ada yang mengatakan bahwa elektabilitas Ahok tren-nya menaik sedangkan Anies menurun. Iya, bisa saja begitu. Tapi pemungutan suara tinggal menghitung hari. Dengan menghitung sisa waktu jelang pencoblosan ditambah faktor margin error survei dan perbandingan dengan survei-survei yang ada: harapan itu jadi ilusi. Kecuali pencoblosan masih 3 bulan, tren itu bisa dipertimbangkan.

Mencontoh ke Pilkada Banten kemarin, jelas bahwa tren Rano-Embay menurun dan tren Wahidin Andika menaik, itu terjadi beberapa bulan jauh sebelum pemungutan suara dan terjadi secara konstan: sono merosot turun tajam, satunya mendaki naik kencang. Tapi survei seminggu jelang pemungutan suara, sesungguhnya telah terdeketsi kalau pilkada akan dimenangkan Wahidin-Andika dengan selisih antara 1 sampai 2 persen, dan terjadi! Jujurnya, 5 hari menjelang pencoblosan, hasil survei menunjukan tren penaikan dukungan ke WH-Andika melesat luar biasa, sementara suara RK tergerus terus.

Ada juga yang mengatakan bahwa faktor isu sangat berpengaruh. Saya menjawab iyalah, masa gak ngaruh. Tapi ini pilkada DKI putaran kedua, dimana pada putaran pertama sesungguhnya dua kubu sudah berhadap-hadapan secara isu. Anies-Sandi & AHY-Sylvi di satu kubu versus Ahok-Djarot di kubu lain. Jadi identifikasi diri sebagai kawan atau lawan Ahok dalam pilkada putaran kedua, mengekor percis ke putaran pertama. Sederhananya: orang yang anti-Ahok di putaran pertama, tidak mungkin jadi pro-Ahok di putaran kedua! Jadi ringkasnya, suara yang diperebutkan adalah suara yang tidak berpartisipasi dan suara elite parpol pengusung AHY-Sylvi (pengurus struktural dan keluarganya).

Nah pertanyaannya kemana suara pengusung AHY-Sylvi beralih, kemana suara anggota dan atau simpatisan parpol pengusung AHY-Sylvie berpindah? Saya sudah singgung sedikit di atas jawabannya. Mereka akan beralih ke kubu yang sehati, se-ruh, sejasad dalam semangat, isu dan identitas. Identifikasi diri sebagai LAWAN AHOK di putaran pertama akan menjadi semacam pertaruhan harga diri dan konsistensi. Jika dari LAWAN kemudian jadi KAWAN dipastikan akan memunculkan semacam perasaan mengkhianati diri, hipokrit, munafik. Jadi pada sisi ini, pilihannya adalah tetap berjuang me-LAWAN AHOK atau diam, pertarungan sudah usai: kita gak ikutan!

PAN jelas menjadi pendukung Anies paling bersemangat di putaran kedua ini. Buat PAN pindah dari pengusung AHY jadi pendukung Anies sama seperti pindah kamar di rumah gadang. Sementara buat Demokrat, walau secara terang benderang dinyatakan netral tetapi luka menganga akibat sengatan dan serangan lebah-lebah beracun sosial media lawannya, akan sembuh tak berbekas jika Anies-Sandi menang. Ringkasnya, mereka akan lebih happy kalau Ahok kalah! Itulah mengapa di lapangan, banyak ditemukan relawan AHY yang bekerja memenangkan Anies-Sandi, ini bukan semata soal membalas kekalahan, tetapi menyembuhkan luka akibat sengatan yang tak beradab pada mereka bahkan pada SBY, sang jungjunan.

Bagaimana dengan PKB? Iya suara mereka memang sangat diperlukan pihak Ahok, tapi pada pemilihnya dan bahkan sebagian pengurusnya keengganan itu tak terbantah. Ini bisa dibaca dengan tidak munculnya kehebohan deklarasi juga tak sedari dini tetapi menjelang senja. Saya menduga suara dibawah akan konsisten, sesuai pilihannya di putaran pertama.

Terakhir soal PPP, rumah besar ummat Islam ini kini jadi “rumah” Ahok. Dukungan PPP telah jelas ditentang banyak orang dalam, ah tidak enak membahasnya terlalu dalam. Tapi pilihan mendukung Ahok adalah upaya politik mereka untuk “kepentingan” partai. Itu yang bisa ditangkap, sementara penilihnya tetap akan bertahan dengan pilihan awalnya.

Itulah analisis saya menjelang masa pencoblosan ini, secara garis besar saya ingin nyatakan bahwa pilkada putaran kedua akan berlangsung antagonsitik: saling kokang, saling tembak, saling mematikan! Ini jadinya bukan kontes tapi perang. Karenanya wajar jika banyak yang berharap agar pilkada DKI ini segera usai. Kita tinggal tunggu beberapa hari lagi, pemenanganya sudah bisa diprediksi. Sekanat datang gubernur baru!

Bagiaman jika meleset? Jika itu terjadi berarti ada sesuatu yang luar biasa. Dalam istilah umum dikenal KLB (Kejadian Luar Biasa) itu bentuknya adalah kecurangan TSM (terstruktur, sistematis, massif) yang hanya bisa dilakukan oleh yang punya kuasa atas kekuasaan dan dana. Agar itu bisa dicegah, semua pihak harus awas, jaga lingkungannya. Kedatangan para pejabat daerah dengan uangnya di masa jelang pencoblosan wajib diawasi: itu bisa memungkinkan terjadinya transaksi suara, vote buying atau intimidasi politik. Kita berharap penyelenggara pilkada dan tentunya pemerintah mampu menyelenggarakan pilkada putaran kedua ini dengan luber, jurdil, lancar, aman dan tentram!