Mengusung momen setahun setelah pelaksanaan pilpres pada 9 Juni 2014, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) membuka hasil survei yang dilakukan pada 25 Mei sampai 2 Juni 2015 tentang evaluasi publik untuk pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menggunakan sampel yang dipilih secara random atau multistage random sampling, hasil survei terhadap 1.220 responden dari 34 provinsi Indonesia itu punya margin of error sekira 2,9 persen dengan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen.

Hasilnya, semua angka yang dihasilkan menunjukkan tren yang jauh menurun dengan hasil survei SMRC pada Oktober 2014. Penurunan itu menyentuh segala bidang, mulai dari kondisi politik, ekonomi, dan hukum.

Sebanyak 30.1 persen responden menyatakan bahwa kondisi ekonomi saat ini jauh lebih buruk. Sebaliknya, hanya 22.4 persen yang menyatakan kondisi ekonomi bergerak lebih baik.

pakah pemilih Jokowi menyesali pilihannya (Photo SMRC)

Begitu juga dengan kondisi politik, 32,8 persen menyatakan lebih buruk dengan pernyataan positif hanya 21,1 persen. Untuk penegakan hukum, 33,6 persen menyatakan lebih buruk dan 31,2 persen menyatakan lebih baik.

“Ini menunjukkan bahwa tren evaluasi yang pada Oktober 2014 positif, sekarang jadi negatif dengan perubahan cukup tajam. Evaluasi secara nasional cenderung negatif. Legitimasi kinerja pemerintah Jokowi dipertanyakan elite dan rakyat pada umumnya,” papar Direktur Eksekutif SMRC Djayadi Hanan di Jalan Cisadane, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (9/7/2015).

Buruknya penilaian tiga bidang tersebut kemudian berpengaruh pada kepuasan masyarakat terhadap kinerja mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut. Approval Rating masyarakat pada tahun pertama hanya mencapai 40,7 persen, jauh dari angka pencapaian tahun pertama Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mencapai 70 persen.

“Legitimasi terhadap kinerja Presiden Jokowi jadi defisit dalam approval rating-nya. Tingkat kepuasan atas kinerja Presiden Jokowi setahun terpilih sebagai Presiden juga sangat rendah, hanya 40,7 persen,” ungkapnya.

Hadir dalam pemaparan survei kali ini adalah politikus PDI Perjuangan (PDIP) Eva Kusuma Sundari, pengamat politik Salim Said, dan Sekretaris Umum Partai Demokrat Ikhsan Modjo. (oz/ind)